Kuantifikasi Emisi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sistem FONi dengan Variasi Tinggi Muka Air dan Pupuk
Date
2026Author
Khairunnisa, Ananda Azaria
Arif, Chusnul
Saptomo, Satyanto Krido
Metadata
Show full item recordAbstract
Emisi metana (CH4) dari lahan sawah merupakan penyumbang signifikan terhadap
pemanasan global, sehingga memerlukan strategi mitigasi yang presisi. Penelitian
ini bertujuan menganalisis fluks emisi CH4 berdasarkan variasi tinggi muka air dan
jenis pupuk untuk menentukan skenario mitigasi yang paling efektif. Melalui
penelitian yang dilaksanakan di Kinjiro Farm, Kota Bogor pada periode Februari
hingga Juni 2026, metode eksperimen diterapkan dengan membandingkan variasi
rezim air mulai dari kondisi tergenang hingga berselang yang dikombinasikan
dengan aplikasi pupuk organik dan anorganik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tingginya ketersediaan substrat karbon pada pupuk organik memicu total emisi
tertinggi mencapai 520,75 kg/ha/musim. Sebaliknya, skenario mitigasi paling
optimal berhasil dicapai dari perlakuan rezim air berselang dan pupuk anorganik
yang mampu menekan emisi hingga titik terendah sebesar 184,26 kg/ha/musim.
Implikasi temuan ini menegaskan bahwa sinergi antara pemutusan kondisi
anaerobik dan pengendalian suplai substrat karbon menjadi kunci utama
perwujudan praktik pertanian rendah emisi. Methane emissions from paddy fields contribute to global warming, necessitating
precise mitigation. This study analyzes methane fluxes under varying water levels and
fertilizer types to identify optimal mitigation scenarios. Field experiments at Kinjiro
Farm in Bogor City from February to June 2026 compared water regimes ranging from
continuous flooding to alternate wetting and drying combined with organic and
inorganic fertilizers. Results indicate that abundant carbon substrate in organic
fertilizers triggered the highest total emissions at 520.75 kg/ha/season. Conversely,
combining alternate wetting and drying with inorganic fertilizers optimally suppressed
emissions to a minimum of 184.26 kg/ha/season. These findings confirm that
synergizing the disruption of anaerobic conditions and the control of carbon substrate
supply is key to realizing low emission agriculture.

