Efikasi Ekstrak Pasak Bumi Eurycoma longifolia terhadap Status Kesehatan Udang Vaname yang Diinfeksi Vibrio parahaemolyticus
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Azzahra, Fatasya
Nuryati, Sri
Sukenda
Wahjuningrum, Dinamella
Metadata
Show full item recordAbstract
FATASYA AZZAHRA. Efikasi Ekstrak Pasak Bumi Eurycoma longifolia terhadap
Status Kesehatan Udang Vaname yang Diinfeksi Vibrio parahaemolyticus
Dibimbing oleh SRI NURYATI, SUKENDA, dan DINAMELLA WAHJUNINGRUM.
Udang vaname (Litopanaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas
utama akuakultur yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkontribusi besar
terhadap produksi perikanan nasional. Namun demikian, wabah penyakit
meningkat dalam budidaya udang terutama yang disebabkan oleh patogen. Salah
satu patogen utama pada budidaya udang vaname adalah Vibrio parahaemolitycus
yang dapat menyebakan vibriosis dan acute hepatopancreatic necrosis disease
(AHPND), dengan tingkat mortalitas yang tinggi dan berdampak serius terhadap
keberlanjutan usaha budidaya. Penggunaan antibiotik secara berlebihan untuk
mengendalikan penyakit tersebut berpotensi menimbulkan resistensi bakteri serta
residu yang berbahaya bagi lingkungan dan konsumen.
Pemanfaatan bahan alami berupa fitobiotik menjadi alternatif yang lebih
aman dan berkelanjutan. Pasak bumi (Eurycoma longifolia) memiliki kadungan
senyawa bioaktif yang berperan dalam aktivitas antibakteri dan imunostimulan.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efikasi ekstrak pasak bumi dengan metode
infusi menggunakan konsentrasi berbeda melalui pakan terhadap status kesehatan
udang vaname yang diinfeksi bakteri V. parahaemolyticus. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan
tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari atas kontrol positif (K+), kontrol negatif (K-),
serta tiga perlakuan pakan yang mengandung ekstrak pasak bumi dengan dosis
1,5%, 2%, dan 3%. Ekstrak pasak bumi dibuat menggunakan metode infusi dengan
pelarut air panas. Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro melalui metode
difusi agar dan penentuan nilai MIC dan MBC. Uji in vivo dilakukan melalui
pemberian pakan selama masa pemeliharaan, dilanjutkan dengan uji tantang
menggunakan V. parahaemolyticus. Parameter yang diamati meliputi aktivitas
antibakteri, respons imun, kinerja produksi, kelimpahan Vibrio, dan histopatologi
udang vaname.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak pasak bumi dengan berbagai
dosis memiliki nilai penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri V.
parahaemolyticus secara in vitro. Konsentrasi terendah ekstrak pasak bumi yang
mampu menghambat pertumbuhan bakteri V. parahaemolyticus RfR adalah 2,5
mg/ml yang mampu menghambat sebesar 62,82%, dan konsentrasi yang mampu
menghambat pertumbuhan bakteri 100% adalah 15 mg/mL.
Pada uji in vivo menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pasak bumi dengan
berbagai dosis berbeda (1,5%, 2%, dan 3%) melalui pakan meningkatkan
kelangsungan hidup udang vaname secara signifikan (76,7%, 83,3%, dan 73,3%)
dibandingkan kontrol positif (K+) yang hanya mencapai 36,7%. Perlakuan dengan
pemberian ekstrak pasak bumi juga mampu mengurangi populasi bakteri V.
parahaemolyticus pada organ usus serta terjadi peningkatan nilai respons imun
seperti aktivitas fagositik, total haemocyte count, respiratory burst, dan
phenoloxidase. Histopatologi jaringan hepatopankreas dan usus pada perlakuan ekstrak pasak bumi cenderung lebih normal dan kerusakan yang terjadi lebih sedikit
dibandingkan perlakuan K+ ditandai dengan terjadi nekrosis yang parah.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak pasak
bumi yang diekstraksi menggunakan metode infusi pada pakan udang vaname
mampu meningkatkan status kesehatan udang vaname dengan hasil terbaik pada
dosis 2%. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu perlu dilakukan uji lanjutan
ekspresi gen untuk menganalisis mekanisme molekuler dari respon imun udang
vaname terhadap pemberian ekstrak pasak bumu (E. longifolia) dengan metode
infusi sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai gen
gen yang berperan dalam sistem pertahanan udang. FATASYA AZZAHRA. The Efficacy of Eurycoma longifolia Pasak Bumi Extract
on the Health Status of Vaname Shrimp Infected with Vibrio Parahaemolyticus.
Supervised by SRI NURYATI. SUKENDA, and DINAMELLA WAHJUNINGRUM.
Vaname shrimp (Litopanaeus vannamei) is one of the main aquaculture
commodities with high economic value and contributes significantly to national
fishery production. However, disease outbreaks in aquaculture systems have
increased, particularly those caused by pathogenic bacteria. One of the main
pathogens in vaname shrimp farming is Vibrio parahaemolyticus, which can cause
vibriosis and acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND), with high
mortality rates and a serious impact on the sustainability of farming business.
Excessive use of antibiotics to control these disease has the potential to cause
bacterial resistance and residues that are harmful to the environment and
consumers.
The use of natural ingredients in the form of phytobiotics is a safer and more
sustainable alternative. Eurycoma longifolia contains bioactive compounds that
play a role in antibacterial and immunostimulatory activities. This study aims to test
the efficacy of Eurycoma longifolia extract using the infusion method with different
concentrations through feed on the health status of vaname shrimp infected with V.
parahaemolyticus. This study used a completely randomized design (CRD)
consisting of five treatments and three replicates. The treatments consisted of a
positive control (K+), a negative control (K-), and three feed treatments containing
Eurycoma longifolia extract at doses pf 1,5%, 2%, and 3%. Pasak bumi extract was
prepared using the infusion method with hot water as the solvent. Antibacterial
activity was tested in vitro using the agar diffusion method and determining the
MIC and MBC values. In vivo testing was conducted by feeding the shrimp during
the experimental period, followed by a challange test using V. parahaemolyticus.
The parameters observed included antibacterial activity, immune response,
production performance, Vibrio abundance, and histopathology of vaname shrimp.
The result showed that E. Longifolia extract at various doses inhibited the
growth of V. parahaemolyticus bacteria in vitro. The lowest concentration of E.
Longifolia capable of inhibiting the growth of V. parahaemolyticus RfR bacteria was
2,5 mg/mL, which inhibited growth by 62,82%, and the concentration capable of
inhibiting bacterial growth by 100% was 15 mg/mL.
In vivo test showed that administering E. Longifolia extract at various doses
(1,5%, 2%, and 3%) through feed significantly increased the survival rate of
vaname (76,7%, 83,3%, and 73,3%) compared to the positive control (K+), which
only reached 36,7%. Treatment with E. Longifolia extract also reduced the
population of V. parahaemolyticus bacteria in the intestinal organs and increased
immune response values such as phagocytic activity, total haemocyte count,
respiratory burst, and phenoloxidase. Histopathology of the hepatopancreatic and
intestinal tissues in the E. Longifolia extract treatment tended to be more normal
and showed less damage compared to the K+ treatment, which was characterized
by severe necrosis.
Based on these results, it can be concluded that the administration of E.
Longifolia extract, extracted using the infusion method in vaname shrimp feed can
improve the health status of vaname shrimp, with the best result at dose pf 2%.
Recommendation for further research include conducting additional gene
expression tests to analyze the molecular mechanism of the vaname shrimp’s
immune response to E. Longifolia extract administered via infusion, thereby
gaining a deeper understanding of the genes involved in the shrimps’s defense
systems.
Collections
- MF - Fisheries [3271]

