Perencanaan Bisnis Stik Horenso untuk Meningkatkan Keuntungan pada Koperasi Produsen Agronative Pratama Indonesia
Date
2026Jenis/Type
Tugas AkhirSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
PRATIWI, VIRA AGUSTIN
Yusalina
Metadata
Show full item recordAbstract
Koperasi Produsen Agronative Pratama Indonesia di Lembang, Kabupaten
Bandung Barat membudidayakan horenso atau bayam Jepang Spinacia oleracea L.,
sebagai salah satu komoditas utama. Proses pascapanen menghasilkan sisa sortasi
dan trimming yang belum dimanfaatkan sehingga berpotensi menjadi limbah,
mendorong pengembangan bisnis pengolahan sisa sortasi menjadi camilan stik
bernama Kito Horenso. Penelitian ini bertujuan menganalisis preferensi konsumen,
nilai tambah, serta kelayakan usaha menggunakan analisis konjoin, metode Hayami,
dan studi kelayakan bisnis. Konsumen paling menyukai stik horenso dengan tekstur
renyah, rasa original, ukuran 100-150 gram, kemasan Standing pouch, dan harga
Rp10.000. Pengolahan horenso menjadi stik menghasilkan nilai tambah
Rp72.973,91/kg dengan rasio 57,0 persen, termasuk kategori tinggi. Usaha
dinyatakan layak dari aspek non finansial maupun finansial dengan NPV sebesar
Rp284.204.088,24; IRR sebesar 63,56%; Net B/C sebesar 4,93; Gross B/C sebesar
1,22; dan payback period selama 2,65 tahun. Analisis switching value menunjukkan
usaha lebih sensitif terhadap penurunan jumlah produksi dengan batas toleransi
18,43% dibandingkan kenaikan harga tepung terigu 188,68%. Koperasi Produsen Agronative Pratama Indonesia in Lembang, West
Bandung Regency cultivates horenso or Japanese spinach Spinacia oleracea L., as
one of its main commodities. The post-harvest process generates sorting and
trimming by-products that have not been optimally utilized, prompting the
development of a stick snack business named Kito Horenso. This study aims to
analyze consumer preferences, added value, and business feasibility using conjoint
analysis, the Hayami method, and business feasibility study. Consumers most prefer
horenso sticks with a crunchy texture, original flavor, 100-150 gram size, Standing
pouch packaging, and a price of Rp10,000. Processing horenso into sticks generates
an added value of Rp72,973.91/kg with a ratio of 57.0 percent, classified as high.
The business is declared feasible from both non-financial and financial aspects with
an NPV of Rp284,204,088.24; IRR of 63.56%; Net B/C of 4.93; Gross B/C of 1.22;
and a payback period of 2.65 years. Switching value analysis shows the business is
more sensitive to a decline in production volume with a tolerance threshold of
18.43% than to an increase in wheat flour prices of 188.68%.

