Penentuan Premi Asuransi Parametrik Berbasis Indeks Curah Hujan dengan Pendekatan Model Zero-Inflated
Abstract
Ketidakpastian curah hujan akibat variabilitas iklim berdampak langsung pada produktivitas padi di Gresik. Asuransi parametrik berbasis indeks curah hujan menjadi salah satu instrumen pengalihan risiko yang relevan, namun memerlukan penentuan premi yang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan premi asuransi parametrik berbasis indeks curah hujan di Gresik menggunakan pendekatan model zero-inflated (ZI). Data yang digunakan adalah curah hujan harian periode November – Februari pada tahun 1990 – 2022. Tingginya proporsihari tanpa hujan (26,71%) menyebabkan model ZI diterapkan karena memisahkan penentuan peluang kejadian hujan dan penentuan intensitas curah hujan. Model yang digunakan adalah zero-inflated Weibull (ZIW), zero-inflated gamma (ZIG), dan zero-inflated lognormal (ZIL) dengan pendugaan parameter menggunakan metode maximum likelihood estimation. Ambang batas klaim ditentukan berdasarkan kuantil dari peluang kekeringan (< 40 mm) dan kekeringan ekstrem (< 20 mm) pada data 2007 – 2022. Simulasi Monte Carlo sebanyak 5.000 ulangan dilakukan untuk tiga skema fungsi penerimaan manfaat: linear, single threshold, dan double threshold. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ZIW paling cocok dengan Akaike Information Criterion sebesar 22265,69. Premi bersih per musim tanam yang dihasilkan untuk skema linear sebesar Rp1.785.567, skemasingle threshold sebesar Rp8.155.000, dan skema double threshold sebesar Rp4.463.187. Skema double threshold memberikan keseimbangan antara sensitivitas risiko dan keterjangkauan premi. Rainfall uncertainty caused by climate variability affects rice productivity in Gresik. Rainfall-index-based parametric insurance is a relevant risk transfer instrument, but it requires accurate premium determination. This study aims to determine such premiums in Gresik using a zero-inflated (ZI) model approach. Daily rainfall records from November to February for the years 1990 – 2022 were used. The high proportion of rainless days (26,71%) justified the use of the ZI model, which separates rainfall probability from intensity. The models applied were zeroinflated Weibull (ZIW), zero-inflated gamma (ZIG), and zero-inflated lognormal (ZIL), with parameter estimation performed using the maximum likelihood estimation. Claim thresholds were determined based on the quantiles of drought probability (<40 mm) and extreme drought probability (<20 mm) using data from2007 – 2022. Monte Carlo simulation with 5,000 repetitions was conducted for three benefit acceptance function schemes: linear, single-threshold, and doublethreshold. The results indicate that the ZIW model provided the best fit with an Akaike Information Criterion of 22265,69. The net premiums per growing season generated under the linear scheme were Rp1.785.567, under the single-threshold scheme were Rp8.155.000, and under the double-threshold scheme wereRp4.463.187. The double-threshold scheme provides a balance between risk sensitivity and premium affordability.
Collections
- UF - Actuaria [99]

