Valuasi Ekonomi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus, E. Geoffroy 1812)
Abstract
Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan primata endemik Indonesia yang
mengalami penurunan populasi akibat degradasi habitat, perburuan, dan perdagangan
satwa liar ilegal. Kendati upaya penegakan hukum telah dilakukan, aktivitas perburuan
dan perdagangan ilegal lutung jawa masih sering terjadi akibat kesulitan aparat penegak
hukum dalam menetapkan sanksi yang mampu memberikan efek jera karena keterbatasan
data mengenai nilai ekonomi satwa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
menduga nilai ekonomi lutung jawa menggunakan metode harga pasar, valuasi
kontingensi, dan biaya pemeliharaan, serta membandingkan ketiga metode guna
menentukan pendekatan valuasi yang lebih sesuai untuk digunakan. Data harga pasar
diperoleh melalui penelusuran daring dan studi literatur, data willingness to pay (WTP)
dikumpulkan melalui kuesioner pengunjung, sedangkan data biaya pemeliharaan
didapatkan melalui wawancara dengan pengelola Taman Margasatwa Ragunan dan
Taman Safari Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi lutung jawa
sebesar Rp3.430.668 (harga pasar), Rp3.947.500 (valuasi kontingensi), dan Rp6.343.405
(biaya pemeliharaan). Terdapat hubungan antara nilai WTP yang dihasilkan dengan
tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan usia responden. Ditinjau dari efektivitas
pengumpulan dan analisis data serta efisiensi biaya, metode valuasi yang lebih
sesuai adalah harga pasar, sementara berdasarkan nilai ekonomi yang dihasilkan
metode yang lebih tepat adalah biaya pemeliharaan. The Javan langur (Trachypithecus auratus) is an endemic Indonesian primate
experiencing population decline due to habitat degradation, hunting, and illegal wildlife
trade. Despite law enforcement efforts, illegal trade persists, partly because of limited
information on the species' economic value, which hinders the determination of effective
sanctions. This study aimed to estimate the economic value of the Javan langur using the
market price, contingent valuation, and husbandry cost methods, and to compare these
approaches to identify the most suitable valuation method. Market price data were
obtained through online searches and literature reviews, willingness to pay (WTP) data
through visitor questionnaires, and husbandry cost data through interviews with managers
of Ragunan Zoo and Taman Safari Indonesia. The estimated economic values were IDR
3,430,668 (market price), IDR 3,947,500 (contingent valuation), and IDR 6,243,405
(husbandry cost). WTP was significantly associated with respondents’ income, education
level, and age. Considering the effectiveness of data collection and analysis as well as
cost efficiency, the market price method was found to be the most suitable valuation
approach., whereas the husbandry cost method provided the highest and most
representative economic value estimate.

