STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DI KOTA SORONG
Date
2026Author
Huwae, Korneles Edison
Yulianto, Gatot
Damar, Ario
Ismail
Metadata
Show full item recordAbstract
Ekosistem mangrove di Kota Sorong mengalami tekanan signifikan akibat konversi lahan, penebangan liar, dan lemahnya tata kelola. Penelitian ini bertujuan: (1) memetakan status ekologi dan sistem sosial ekosistem mangrove; (2) mengukur keseimbangan pemanfaatan jasa ekosistem; (3) menduga nilai ekonomi total jasa ekosistem; dan (4) merumuskan strategi pengelolaan berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan di pesisir Kota Sorong pada 12 stasiun dengan pendekatan mixed-method. Data ekologi dikumpulkan melalui transek kuadrat dan analisis vegetasi. Data sosial diperoleh dari wawancara 100 responden dan Focus Group Discussion (FGD). Analisis Social-Ecological System (SES) menggunakan Social-Ecological Network Analysis (SENA). Valuasi jasa ekosistem menggunakan metode harga pasar, replacement cost, dan contingent valuation. Perumusan strategi pengelolaan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan lima responden pakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Kota Sorong berada dalam kondisi rusak sedang dengan kehilangan luasan bersih 795,92 ha (35,82%) selama periode 2015–2025, yang didorong oleh konversi lahan masif 1.619,55 ha dan degradasi 126,54 ha. Komposisi vegetasi didominasi oleh Rhizophora apiculata (INP 147,44%) dengan struktur populasi menunjukkan defisit pohon besar akibat eksploitasi selektif. Analisis SES mengungkap jaringan terfragmentasi dengan density 0,054 dan modularity 0,454, mengindikasikan lemahnya konektivitas antar pemangku kepentingan. Interaksi negatif terkonsentrasi pada aktor penebang dan pengepul. Penilaian jasa ekosistem mengidentifikasi 22 jenis jasa berdasarkan CICES V5.2. Terjadi ketidakseimbangan pemanfaatan: jasa kayu mengalami overeksploitasi 400% di atas kapasitas regenerasi, sedangkan jasa budaya (ekowisata) baru terutilisasi 6–10% dari potensinya. Nilai Ekonomi Total (TEV) mangrove mencapai Rp151,75 miliar per tahun (Rp72,26 juta/ha/tahun), dengan kontribusi terbesar dari jasa pengaturan (98,82%), terutama fungsi nursery ground (Rp86,1 miliar/tahun) dan perlindungan pantai (Rp39,36 miliar/tahun). Analisis AHP menghasilkan prioritas strategi pengelolaan: (1) Pengembangan Mata Pencaharian Alternatif Berkelanjutan (A5, skor 0,239); (2) Pengembangan Ekowisata Berbasis Mangrove (A3, skor 0,213); dan (3) Penetapan Kawasan Konservasi Mangrove (A1, skor 0,149). Kedua strategi teratas membentuk motor ganda untuk memutus poverty-environment trap dengan menciptakan insentif ekonomi tandingan bagi masyarakat pesisir. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pengelolaan yang berkelanjutan memerlukan transformasi dari konservasi protektif menuju konservasi transformatif yang berpusat pada pemberdayaan masyarakat. Implementasi ketiga pilar strategi ditargetkan mampu membalikkan laju degradasi menjadi pertumbuhan tutupan mangrove +1% hingga +2% per tahun dalam lima tahun
Collections
- MT - Fisheries [3264]

