Potensi kesesuaian habitat peneluran penyu hijau berdasarkan karakteristik lingkungan dan mikrohabitat sarang di Pantai Pangumbahan
Abstract
Penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan spesies yang dilindungi dan membutuhkan habitat peneluran yang sesuai untuk menunjang keberhasilan reproduksi. Pantai Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi, merupakan salah satu kawasan konservasi penting bagi peneluran penyu hijau. Penelitian ini bertujuan menilai kesesuaian habitat peneluran berdasarkan karakteristik lingkungan pantai menggunakan Indeks Kesesuaian Habitat (IKH), mendeskripsikan mikrohabitat sarang, serta mengamati tingkah laku peneluran penyu hijau. Penelitian dilakukan pada September–November 2025 dan Februari 2026 melalui pengamatan parameter lingkungan, analisis tekstur substrat, pengukuran vegetasi pantai, pengamatan mikrohabitat sarang, dan observasi perilaku peneluran. Hasil penelitian menunjukkan nilai IKH berkisar antara 86,96% hingga 95,65%, yang mengindikasikan kategori sangat sesuai pada seluruh stasiun pengamatan. Analisis mikrohabitat sarang menunjukkan suhu rata-rata sebesar 27,8°C, kelembapan rata-rata sebesar 55,7%, dan kedalaman sarang berkisar antara 40–52 cm, seluruhnya berada dalam kisaran yang mendukung perkembangan embrio. Tujuh tahapan perilaku peneluran yang berurutan berhasil direkam dengan rata-rata total durasi sekitar 3 jam 25 menit. Temuan ini mengonfirmasi bahwa Pantai Pangumbahan sangat mendukung aktivitas peneluran penyu hijau dan memberikan data dasar empiris bagi pengelolaan konservasi. The green turtle (Chelonia mydas) is a protected species that requires suitable nesting habitat to support reproductive success. Pangumbahan Beach in Sukabumi Regency is one of the most important conservation areas for green turtle nesting in Indonesia. This study aimed to assess nesting habitat suitability based on coastal environmental characteristics using the Habitat Suitability Index (HSI), describe nest microhabitat conditions, and observe green turtle nesting behaviour. The study was conducted from September to November 2025 and February 2026 through observations of environmental parameters, substrate texture analysis, coastal vegetation measurements, nest microhabitat observations, and direct behavioural monitoring. Results showed HSI values ranging from 86,96% to 95,65%, indicating a highly suitable category across all stations. Nest microhabitat analysis revealed a mean temperature of 27,8°C, mean humidity of 55,7%, and nest depth of 40–52 cm, all within ranges supportive of embryo development. Seven sequential nesting behavioural stages were recorded with a mean total duration of approximately 3 hours and 25 minutes. These findings confirm that Pangumbahan Beach strongly supports green turtle nesting activity and provide empirical baseline data for conservation management.

