Pengaruh Umur dan Jumlah Bibit pada Sistem Tanam Pindah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah Varietas IPB 13S
Abstract
Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama di Indonesia
dengan tingkat konsumsi yang tinggi dan kebutuhan yang terus meningkat seiring
dengan pertambahan jumlah penduduk. Salah satu upaya peningkatan produksi
dapat dilakukan melalui perbaikan teknik budidaya antara lain perlu dikajinya
pengaruh dari perbedaan umur dan jumlah bibit pada sistem tanam pindah.
Penelitian ini menggunakan varietas unggul tipe baru IPB 13S yang memiliki
potensi hasil tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru
IPB, Dramaga, Bogor, pada bulan September 2025 hingga Januari 2026 dengan
menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial.
Perlakuan percobaan terdiri dari umur bibit (10, 16, 22, dan 28 Hari Setelah Semai
(HSS)) dan jumlah bibit per rumpun (1, 3, dan 5 bibit). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa umur bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman,
jumlah anakan, bobot kering akar, bobot kering malai, nisbah akar tajuk, umur
berbunga, umur panen, jumlah gabah per malai, persentase gabah terisi, serta
bobot gabah ubinan dan bobot gabah per hektar. Jumlah bibit per rumpun
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot kering tajuk,
indeks panen umur berbunga, umur panen, jumlah gabah per malai, dan bobot
gabah per rumpun. Interaksi antara faktor umur bibit dan jumlah bibit
menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada hampir seluruh peubah
pengamatan. Penggunaan bibit muda (10–16 HSS) dengan 1–3 bibit per rumpun
direkomendasikan untuk meningkatkan efisiensi dan memperoleh pertumbuhan
dan hasil yang optimal. Rice (Oryza sativa L.) is a major food commodity in Indonesia, with high
consumption levels and continuously increasing demand in line with population
growth. One approach to increasing rice production is improving cultivation
practices, including optimizing age and the number of seedlings used in
transplanting systems. This study employed the newly developed high-yielding
rice variety IPB 13S. The experiment was conducted at the IPB Sawah Baru
Experimental Farm, Dramaga, Bogor, from September 2025 to January 2026
using a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD). The experimental
treatments consisted of seedling age (10, 16, 22, and 28 days after sowing (DAS))
and the number of seedlings per clump (1, 3, and 5 seedlings). The results showed
that seedling age significantly affected plant height, number of tillers, dry root
weight, dry panicle weight, root-to-shoot ratio, flowering time, harvest time,
grains per panicle, grain filling percentage, as well as grain weight per plot and
grain weight per hectare. The number of seedlings per hill had a significant effect
on plant height, number of tillers, dry weight of the canopy, harvest index,
flowering time, harvest time, number of grains per panicle, and grain weight per
hill. The interaction between seedling age and the number of seedlings showed no
significant differences in almost all observed variables. The use of young
seedlings (10–16 days after sowing) at a rate of 1–3 seedlings per clump is
recommended to improve efficiency and achieve optimal growth and yield.

