Pengelolaan Pesisir Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur Berbasiskan Analisis Kerentanan Pesisir
Abstract
Kecamatan Riung di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah pesisir dengan potensi sumber daya alam yang tinggi, namun menghadapi berbagai tekanan akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Kegiatan pemanfaatan lahan yang tidak terkontrol serta dinamika pantai yang cepat memicu terjadinya degradasi lingkungan dan meningkatkan kerentanan fisik wilayah pesisir. Oleh karena itu, diperlukan analisis spasial untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan fisik pesisir serta penyusunan rekomendasi pengelolaan wilayah yang adaptif dan berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan pesisir akibat perubahan penggunaan lahan, laju perubahan garis pantai, kenaikan muka air laut, dan kemiringan pesisir. Selain itu, dilakukan identifikasi daerah-daerah yang rentan berdasarkan fungsi kawasan hutan dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), serta penyusunan rekomendasi pengelolaan pesisir berdasarkan kelas kerentanan yang dihasilkan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Coastal Vulnerability Index (CVI), yaitu pendekatan berbasis spasial yang menggabungkan empat parameter utama: tutupan lahan, perubahan garis pantai, kenaikan muka air laut, dan kemiringan pesisir. Masing-masing parameter diberi skor berdasarkan tingkat kerentanannya dan diolah menggunakan perangkat lunak pemetaan digital untuk menghasilkan indeks kerentanan spasial. Hasil CVI kemudian dianalisis terhadap batas administrasi Desa dan zonasi fungsi ruang dari RTRW Kabupaten Ngada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah pesisir Kecamatan Riung memiliki tingkat kerentanan tinggi hingga sangat tinggi. Desa Tadho, Sambinasi, dan Lengkosambi Timur merupakan Desa dengan kerentanan paling signifikan. Kelas kerentanan sangat tinggi didominasi oleh kawasan dengan penggunaan intensif seperti pertambangan dan pemukiman padat, serta wilayah dengan kemiringan landai dan tren kenaikan muka laut yang tinggi. Hasil overlay antara peta CVI dan RTRW menunjukkan adanya ketidaksesuaian peruntukan ruang pada beberapa zona, terutama pada kawasan pertambangan dan savana, yang ternyata berada di wilayah dengan kerentanan tinggi. Hal ini menunjukkan perlunya revisi atau penyesuaian kebijakan spasial di wilayah tersebut.
Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya prioritas intervensi pada wilayah dengan nilai CVI tinggi, baik melalui pendekatan struktural seperti pembangunan breakwater maupun pendekatan non-struktural seperti edukasi masyarakat, pelibatan lokal, dan penyesuaian tata ruang. Penelitian ini juga menegaskan bahwa pendekatan CVI dapat menjadi alat yang efektif dalam perencanaan mitigasi risiko pesisir dan penguatan tata kelola wilayah secara berkelanjutan. Riung District in Ngada Regency, East Nusa Tenggara, is a coastal area with high natural resource potential, but faces various pressures from human activities and climate change. Uncontrolled land use and rapid coastal dynamics are triggering environmental degradation and increasing the physical vulnerability of coastal areas. Therefore, spatial analysis is needed to identify the level of physical coastal vulnerability and develop recommendations for adaptive and sustainable regional management.
This study aims to analyze coastal vulnerability due to land-use changes, the rate of shoreline change, sea-level rise, and coastal slope. Furthermore, vulnerable areas are identified based on forest area function and regional spatial planning (RTRW), and coastal management recommendations are developed based on the resulting vulnerability classes.
The method used in this study is the Coastal Vulnerability Index (CVI), a spatial-based approach that combines four main parameters: land cover, shoreline change, sea level rise, and coastal slope. Each parameter is scored based on its vulnerability level and processed using digital mapping software to generate a spatial vulnerability index. The CVI results are then analyzed against village administrative boundaries and spatial function zoning in the Ngada Regency Spatial Plan (RTRW).
The study results show that most coastal areas in Riung District have high to very high levels of vulnerability. Tadho, Sambinasi, and Lengkosambi Timur villages are the villages with the most significant vulnerability. The very high vulnerability class is dominated by areas with intensive uses, such as mining and dense settlements, as well as areas with gentle slopes and a high sea level rise trend. The overlay results between the CVI map and the RTRW indicate inconsistencies in spatial allocation in several zones, particularly in mining and savanna areas, which are located in areas with high vulnerability. This indicates the need for revision or adjustment of spatial policies in these areas.
The implication of this research is the need to prioritize interventions in areas with high CVI values, both through structural approaches such as breakwater construction and non-structural approaches such as community education, local engagement, and spatial planning adjustments. This research also confirms that the CVI approach can be an effective tool in coastal risk mitigation planning and strengthening sustainable regional governance.

