| dc.contributor.advisor | Nuryati, Sri | |
| dc.contributor.advisor | Sukenda | |
| dc.contributor.author | Karima, Salma Nur | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-02T04:14:25Z | |
| dc.date.available | 2026-06-02T04:14:25Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173214 | |
| dc.description.abstract | Industri budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) memiliki nilai
ekonomi tinggi, menyumbang 17% ekspor akuakultur global pada 2022 dengan
produksi dunia mencapai 7,93 juta ton. Di Indonesia, produksi tahun 2022 sebesar
1,09 juta ton dengan nilai ekspor 2,16 miliar USD, dan pemerintah menargetkan 2
juta ton produksi pada 2024. Infeksi penyakit AHPND mampu mengakibatkan
kematian masal pada semua tahap kehidupan udang. Penyakit ini dilaporkan
menyebabkan kerugian hingga 11 miliar USD di Asia (2010–2016). Antibiotik
digunakan dalam menekan infeksi penyakit, namun kini penggunaannya dibatasi
karena dapat menyebabkan resistensi bakteri dan residu. Alternatif yang
berkembang adalah fitofarmaka dari tanaman obat, seperti batang pisang yang
mengandung flavonoid (golongan flavonol), saponin (triterpen), dan tanin.
Senyawa ini berfungsi sebagai antibakteri, antivirus, antiparasit, serta
immunostimulan, dan terbukti meningkatkan ketahanan ikan terhadap Vibrio sp.
Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas serbuk batang pisang peroral
untuk pengobatan penyakit AHPND pada udang vaname. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 6 ulangan.
Perlakuan terdiri dari kontrol terdiri dari kontrol positif (K+), kontrol negatif (K-),
serbuk batang pisang 1 gr kg-1
(BP1), serbuk batang pisang 1,5 gr kg-1
(BP1,5) dan
serbuk batang pisang 2 gr kg-1
(BP2). Hewan uji yang digunakan yaitu udang
vaname dengan bobot 3-3,5 g yang dipelihara dalam akuarium selama 30 hari.
Udang diinfeksi dengan bakteri V. parahaemolyticus dengan kepadatan 106 CFU
mL-1
yang merupakan hasil dati uji lethal dose 50 (LD50). Udang diberi pakan
komersial dengan kadar protein 40% kemudian dicoating dengan serbuk batang
pisang, udang diberi makan dengan frekuensi 5 kali sehari. Parameter yang diukur
dan diamati yaitu ekspresi gen inflamasi udang vaname, respons imun (total
hemocyte count (THC), aktivitas fagositosis (AF), aktivitas phenoloxidase (PO),
dan aktivitas respiratory burst (RB)), kelangsungan hidup, histologi serta
kelimpahan bakteri.
Penggunaan serbuk batang pisang pada pakan secara efektif dapat menekan
pertumbuhan bakteri V. parahaemolyticus melalui uji zona hambat dan kultur
bersama secara signifikan (P<0,05). Respons imunitas juga menunjukkan hal yang
serupa, penggunaan serbuk batang pisang 2 g kg-1
pada pakan mampu
meningkatkan imunitas udang yang diinfeksi dengan bakteri Vibrio
parahaemolyticus secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kontrol positif
(P<0,05). Tingkat kelangsungan hidup (TKH) pada udang yang diberi perlakuan
serbuk batang pisang pada pakan menunjukkan nilai yang lebih tinggi dan
signifikan dibandingkan dengan kontrol positif (P<0,05). Relative percent survival
(RPS) juga menunjukkan nilai yang sama, perlakuan yang diberi serbuk batang
pisang 2 g kg-1 menunjukkan nilai tertinggi dan signifikan (P<0,05). Gejala klinis
udang yang diinfeksi dengan bakteri Vibrio parahaemolyticus menunjukkan gejala
yang ringan pada perlakuan yang diberi serbuk batang pisang pada pakan.
Kelimpahan bakteri pada organ hepatopankreas dan usus udang juga menunjukan
tren penurunan kelimpahan bakteri vibrio dan Vibrio parahaemolyticus yang
signifikan (P<0,05) pada perlakuan yang diberi serbuk batang pisang peroral
dibandingkan dengan kontrol positif hingga akhir masa uji tantang. Ekspresi gen
inflamasi juga menunjukkan hal yang sejalan, penambahan serbuk batang pisang
peroral mampu menurunkan gen inflamasi pada udang yang diinfeksi dengan
bakteri Vibrio parahaemolyticus secara signifikan dibandingkan dengan kontrol
positif (P<0,05). Histologi pada organ hepatopankreas dan usus udang
menunjukkan hasil yang linear dengan hasil kelimpahan bakteri dan ekspresi gen
inflamasi, histologi hepatopankreas dan usus udang pada perlakuan terbaik 2 g kg1 menunjukkan kerusakan yang lebih ringan dibandingkan dengan perlakuan
kontrol positif. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan serbuk batang
pisang pada pakan mampu meningkatkan respons imunitas udang dan menurunkan
kelimpahan bakteri Vibrio parahaemolyticus dan ekspresi gen inflamasi. Selain itu
penggunaan serbuk batang pisang juga membantu mempercepat proses
penyembuhan akibat serangan patogen. | |
| dc.description.abstract | Whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) farming industry has high
economic value, accounting for 17% of global aquaculture exports in 2022, with
worldwide production reaching 7.93 million tons. In Indonesia, production in 2022
was 1.09 million tons with an export value of 2.16 billion USD, and the government
is targeting 2 million tons of production by 2024. Infection with AHPND can cause
mass mortality at all life stages of shrimp. This disease is reported to have caused
losses of up to 11 billion USD in Asia (2010–2016). Antibiotics are used to control
the infection, but their use is now restricted due to the risk of bacterial resistance
and residues. An emerging alternative is phytopharmaceuticals derived from
medicinal plants, such as banana stems, which contain flavonoids (flavonol group),
saponins (triterpenes), and tannins. These compounds function as antibacterial,
antiviral, antiparasitic, and immunostimulants, and have been shown to enhance
fish resistance to Vibrio sp.
This study aimed to evaluate the effectiveness of oral banana stem powder for
the treatment of AHPND in vanamei shrimp. The study employed a completely
randomized design with 5 treatments and 6 replicates. The treatments consisted of
a positive control (K+), a negative control (K-), 1 g/kg banana stem powder (BP1),
1,5 g/kg banana stem powder (BP1,5), and 2 g/kg banana stem powder (BP2). The
test animals used were vanamei shrimp weighing 3–3,5 g, reared in aquariums for
30 days. The shrimp were infected with V. parahaemolyticus at a density of 106
CFU mL?¹ a concentration derived from the lethal dose 50 (LD50) test. The shrimp
were fed commercial feed containing 40% protein, which was then coated with
banana stem powder; they were fed five times daily. The parameters measured and
observed included the expression of vanamei shrimp inflammatory genes, immune
response (total hemocyte count (THC), phagocytosis activity (AF), phenoloxidase
activity (PO), and respiratory burst activity (RB)), survival, histology, and bacterial
abundance.
The use of banana stem powder in feed effectively suppressed the growth of
V. parahaemolyticus bacteria, as demonstrated by significant results in both the
inhibition zone test and co-culture assay (p<0,05). Immune responses also showed
similar results, the use of 2 g kg-1
banana stem powder in feed significantly
increased the immunity of shrimp infected with V.parahaemolyticus compared to
the positive control (p<0,05). The survival rate (SR) in shrimp treated with banana
stem powder in feed showed a higher and significantly different value compared to
the positive control (p<0,05). Relative percent survival (RPS) also showed the same
trend, the treatment with 2 g kg-1
banana stem powder exhibited the highest and
significantly different value (p<0.05). Clinical symptoms in shrimp infected with
the bacterium V. parahaemolyticus were milder in the treatment group fed with
banana stem powder in their diet. Bacterial abundance in the hepatopancreas and
intestines of shrimp also showed a significant (p<0,05) downward trend in the
abundance of Vibrio and V. parahaemolyticus in the group treated with oral banana
stem powder compared to the positive control until the end of the challenge period.
Inflammatory gene expression also showed a consistent pattern, the addition of
banana stem powder via oral administration was able to significantly reduce
inflammatory genes in shrimp infected with V. parahaemolyticus compared to the
positive control (p<0,05). Histology of the shrimp’s hepatopancreas and intestine
showed results consistent with bacterial abundance and inflammatory gene
expression; histology of the hepatopancreas and intestine in the best treatment
group 2 g kg?¹ exhibited milder damage compared to the positive control. This study
indicates that the inclusion of banana stem powder in the diet enhances the immune
response in shrimp and reduces the abundance of V.parahaemolyticus and the
expression of inflammatory genes. Additionally, the use of banana stem powder
helps accelerate the healing process following pathogen infection. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Pengobatan Penyakit AHPND pada Udang Vaname Litopenaeus vannamei dengan Serbuk Batang Pisang Peroral | id |
| dc.title.alternative | Treatment of AHPND in Litopenaeus vannamei Shrimp Using Oral Banana Stem Powder | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | fitofarmaka | id |
| dc.subject.keyword | oral | id |
| dc.subject.keyword | serbuk batang pisang | id |
| dc.subject.keyword | udang vaname | id |
| dc.subject.keyword | Vibrio parahaemolyticus | id |