Pengaruh Posisi Setek dan Metode Aplikasi Auksin terhadap Pertumbuhan Setek Kelor (Moringa oleifera (L.)).
Abstract
Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman tahunan dengan potensi pengembangan yang besar dan dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan vegetatif melalui setek batang banyak dipraktikkan, namun tingkat keberhasilannya relatif rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons pertumbuhan setek kelor terhadap perbedaan orientasi setek dan metode pemberian auksin. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo pada Juni–Agustus 2025 menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial. Perlakuan terdiri dari dua taraf posisi setek (vertikal dan horizontal) dan tiga taraf metode aplikasi auksin (tanpa auksin, perendaman dalam larutan auksin 1500 ppm, dan pengolesan pasta auksin). Posisi peletakan setek secara horizontal menghasilkan persentase bertunas lebih tinggi dari posisi vertikal, tetapi peubah seperti bobot basah dan bobot kering daun posisi vertikal lebih berat daripada posisi horizontal. Hal tersebut dikarenakan panjang akar pada posisi vertikal lebih panjang dari posisi penanaman horizontal yang menjadi indikator keberhasilan setek atau setek dapat beradaptasi dengan baik. Sedangkan pada perlakuan metode aplikasi auksin, taraf tanpa auksin memiliki panjang akar yang lebih panjang daripada perendaman dan pengolesan auksin yang mengindikasikan setek berhasil beradaptasi atau setek tersebut hidup. Moringa (Moringa oleifera) is a perennial plant with considerable
development potential and can be propagated both generatively and vegetatively.
Vegetative propagation using stem cuttings is widely practiced, yet survival rates
are relatively low. This study evaluated growth responses of Moringa cuttings to
different cutting positions and auxin application methods. The experiment was
conducted at the Leuwikopo Experimental Field from June to August 2025 using
a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD). The treatments
consisted of two cutting positions (vertical and horizontal) and three auxin
application methods (without auxin, soaking in 1500 ppm auxin solution, and
application of auxin paste). The horizontal cutting position produced higher
sprouting percentage than vertical position, however variables such as fresh leaf
weight and dry leaf weight were greater in the vertical position than in the
horizontal position. This was due to the longer root length in the vertical position
compared to the horizontal planting position which served as an indicator of
cutting establishment success or the ability of cuttings to adapt well. Meanwhile
in auxin application treatment, without auxin level resulted in longer root length
than soaking and auxin paste application treatments that indicating cuttings were
able to adapt successfully or survive well.
Keywords: auxin, cutting position, moringa

