Analisis Pengaruh Asimetris Determinan Arus Masuk Remitansi di Filipina Tahun 1987-2024 : Pendekatan NARDL
Date
2026Author
DANIEL, RIDZIK MALKY
Hakim, Dedi Budiman
Nugraheni, Sri Retno Wahyu
Metadata
Show full item recordAbstract
Remitansi merupakan penopang utama ekonomi Filipina sekaligus salah satu yang terbesar di ASEAN, namun sangat rentan terhadap guncangan eksternal dan internal. Penelitian ini menganalisis pengaruh asimetris Ketidakpastian Filipina (WUI), PDB Amerika Serikat, Akses Institusi Keuangan (FIA), Nilai Tukar Riil (REER), dan Emisi Karbon (CO2) terhadap remitansi periode 1987–2024 menggunakan metode Nonlinear Autoregressive Distributed Lag (NARDL). Hasil uji Bounds mengonfirmasi adanya kointegrasi. Estimasi membuktikan efek asimetris yang kuat pada keseimbangan jangka panjang; di mana penurunan WUI dan ekspansi PDB AS meningkatkan remitansi akibat menguatnya kapasitas finansial. Sebaliknya, penurunan CO2 menurunkan aliran dana seiring meredanya motif asuransi. Guncangan FIA dan REER secara asimetris menurunkan remitansi akibat efek substitusi dan motif spekulasi. Dalam jangka pendek, respons remitansi terhadap CO2 terkonfirmasi simetris, sedangkan variabel lainnya menunjukkan Dynamic Asymmetry melalui perbedaan jeda waktu penyesuaian. Pemerintah disarankan
menjaga stabilitas nilai tukar dan memeratakan infrastruktur perbankan agar
remitansi optimal sebagai penyangga krisis. Remittances are a primary pillar of the Philippine economy and one of the largest in ASEAN, yet highly vulnerable to external and internal shocks. This study analyzes the asymmetric effects of Philippine Uncertainty (WUI), United States GDP, Financial Institution Access (FIA), Real Effective Exchange Rate (REER), and Carbon Emissions (CO2) on remittances from 1987 to 2024 using the Nonlinear Autoregressive Distributed Lag (NARDL) method. The Bounds test confirms the presence of cointegration. The estimation proves strong asymmetric effects in the long-run equilibrium; where a decrease in WUI and US GDP expansion increase remittances due to the strengthening of financial capacity. Conversely, a reduction in CO2 decreases fund flows as the insurance motive subsides. Shocks in FIA and REER asymmetrically decrease remittances due to substitution effects and speculative motives. In the short run, the remittance response to CO2 is confirmed to be symmetric, while other variables exhibit Dynamic Asymmetry through differences in adjustment lag time. The government is advised to maintain exchange rate stability and equalize banking infrastructure so that remittances remain optimal as a crisis buffer.

