| dc.description.abstract | Major Histocompatibility Complex (MHC) merupakan kelompok gen pada vertebrata yang mengode molekul penyaji antigen yang berperan penting dalam sistem imun adaptif dengan mempresentasikan peptida patogen kepada sel T. Tingginya polimorfisme gen MHC pada vertebrata diketahui berkontribusi terhadap variasi kemampuan individu dalam merespon infeksi. Pada burung kakatua (genus: Cacatua) di Indonesia, informasi mengenai keragaman gen MHC dan kaitannya dengan kerentanan terhadap penyakit menular masih terbatas, khususnya terhadap infeksi Beak and Feather Disease Virus (BFDV). Virus ini merupakan patogen penting yang menginfeksi burung Psittaciformes yang menyebabkan kerusakan bulu, deformitas paruh, dan imunosupresi. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi polimorfisme gen MHC-I ekson 3 dan MHC-II ekson 2 pada spesies Cacatua di Indonesia, mendeteksi keberadaan BFDV, serta mengevaluasi asosiasi antara variasi genetik MHC dan status infeksi.
Sebanyak 197 sampel darah dari tujuh spesies kakatua penangkaran di Indonesia (Cacatua alba, C. galerita, C. goffiniana, C. moluccensis, C. pastinator, C. sanguinea, dan C. sulphurea) dianalisis untuk deteksi BFDV menggunakan PCR. Selanjutnya, beberapa dari sampel tersebut dilakukan amplifikasi di daerah MHC-I ekson 3 dan MHC-II ekson 2 untuk dianalisis asosiasi antara haplotipe MHC dan status infeksi menggunakan Generalized Linear Model (GLM) binomial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa BFDV terdeteksi pada seluruh spesies yang diuji dengan tingkat infeksi berbeda antarspesies. Analisis genetik menunjukkan tingkat polimorfisme yang tinggi pada kedua lokus MHC, namun tidak ditemukan asosiasi signifikan antara variasi haplotipe MHC-I maupun MHC-II dengan status infeksi BFDV. Selain itu, analisis filogenetik menunjukkan pola transmisi lintas spesies tanpa klaster spesifik berdasarkan inang.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun keragaman genetik MHC pada Cacatua relatif tinggi, faktor lain di luar wilayah gen yang dianalisis dapat berperan lebih besar dalam menentukan kerentanan terhadap infeksi BFDV. Penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar serta eksplorasi gen imun lain diperlukan untuk memahami mekanisme kerentanan inang secara lebih komprehensif. | |