| dc.description.abstract | Sarden olahan merupakan produk ikan kaleng yang diminati di pasar
internasional setelah tuna olahan. Ekspor sarden olahan menunjukkan pertumbuhan
positif selama periode 2019-2023 yang sebagian besar ditujukan ke kawasan
Afrika. Kandungan gizi yang tinggi dengan harga terjangkau membuat sarden
olahan diminati konsumen Afrika terutama masyarakat miskin. Maroko sebagai
pesaing utama mengalami penurunan pangsa pasar, tetapi kehadiran China semakin
dominan sehingga menciptakan persaingan baru. Kondisi ini menjadi peluang
sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk mempertahankan dan meningkatkan
posisinya di pasar Afrika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing
dan dinamikanya, struktur permintaan dan persaingan serta faktor-faktor yang
Memengaruhi ekspor sarden olahan Indonesia di kawasan Afrika.
Metode analisis yang digunakan meliputi Revealed Comparative Advantage
(RCA), Export Product Dynamic (EPD), Almost Ideal Demand System (AIDS) dan
Regresi Data Panel. Penelitian ini menggunakan data time series selama periode
2011-2023. Analisis RCA dan EPD fokus terhadap daya saing sarden olahan
Indonesia di 18 negara Afrika. Pada model AIDS menggunakan negara pesaing
Indonesia seperti Maroko, China, Thailand dan Afrika Selatan. Sementara, regresi
data panel menggunakan variabel dependen nilai ekspor sarden olahan Indonesia di
18 negara Afrika dengan variabel independen meliputi harga ekspor, GDP dan
populasi negara importir, nilai tukar, jarak ekonomi serta dummy SPS dan TBT.
Analisis RCA menunjukkan sarden olahan Indonesia memiliki keunggulan
komparatif di 18 negara importir. Analisis EPD menunjukkan posisi daya saing
yang bervariasi selama tiga periode. Hasil analisis EPD menunjukkan Togo,
Gambia, Senegal, Benin, Tanzania, Republik Kongo, Equatorial Guinea, Sierra
Leone, Mesir dan Angola tergolong mitra dagang potensial karena menunjukkan
peningkatan daya saing. Negara importir seperti Kamerun dan Pantai Gading
tergolong mitra dagang berkembang karena mengalami pemulihan ekspor pada
periode terakhir. Sementara Nigeria, Mauritius, Liberia, Ghana, Kenya, dan Gabon
mengalami penurunan daya saing sehingga diperlukan evaluasi terhadap hambatan
ekspor di negara tersebut.
Hasil model AIDS menunjukkan pangsa pasar sarden olahan Indonesia
berpengaruh signifikan terhadap harga sarden olahan Maroko, Thailand dan
Indonesia serta total impor sarden olahan di 18 negara Afrika. Berdasarkan
elastisitas pendapatan, sarden olahan Indonesia tergolong barang normal. Jika
pendapatan konsumen di 18 negara Afrika naik, maka akan meningkatkan
permintaan sarden olahan Indonesia. Permintaan sarden olahan Indonesia bersifat
elastis yang artinya sensitif terhadap perubahan harga. Hubungan sarden olahan
Indonesia dengan sarden olahan Maroko bersifat substitusi atau saling bersaing.
Sebaliknya, hubungan dengan sarden olahan China, Thailand dan Afrika Selatan
bersifat komplementer atau saling melengkapi.
Hasil regresi data panel menunjukkan harga ekspor, GDP negara importir
dan dummy SPS berpengaruh signifikan positif terhadap ekspor sarden olahan
Indonesia di 18 negara Afrika. Jika harga ekspor sarden olahan Indonesia naik,
maka produsen cenderung meningkatkan penawaran sehingga ekspor meningkat.
Hal ini juga sejalan dengan peningkatan ekonomi atau daya beli suatu negara, maka
akan meningkatkan permintaan sarden olahan yang berdampak pada meningkatnya
ekspor. Hasil analisis juga menunjukkan ekspor sarden olahan Indonesia ke negara
importir yang menerapkan SPS cenderung lebih tinggi dibandingkan ke negara
yang tidak menerapkan. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk memperkuat
posisi Indonesia di pasar Afrika dapat dilakukan melalui efisiensi produksi, strategi
harga yang kompetitif, peningkatan sertifikasi dan kualitas, diversifikasi produk,
serta penguatan promosi dan kerja sama bilateral dengan mitra dagang. | |