Analisis Ultrafine Bubble untuk Meningkatkan Kinerja Bahan Bakar Motor Diesel
Date
2026Author
Asbanu, Husen
Herodian, Sam
Mandang, Tineke
Sugiarto, Anto Tri
Anggarani, Riesta
Metadata
Show full item recordAbstract
Bahan bakar biosolar merupakan campuran solar fosil dan biodiesel (FAME)
yang digunakan di Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca,
meningkatkan ketahanan energi nasional, serta mengurangi ketergantungan pada
bahan bakar minyak. Namun demikian, baik biosolar maupun biodiesel masih
memiliki beberapa kelemahan, seperti kestabilan oksidasi yang rendah, viskositas
yang relatif tinggi, serta performa pembakaran yang belum optimal. Untuk
mengatasi hal tersebut, salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah
pemanfaatan ultrafine bubble berbasis oksigen yang merupakan gelembung
berukuran kurang dari 1 µm yang memiliki stabilitas tinggi, mudah terdispersi, dan
mampu memengaruhi sifat fisika kimia bahan bakar. Penelitian ini bertujuan
mengevaluasi pengaruh injeksi ultrafine bubble dalam bahan bakar terhadap sifat
fisika kimia, kestabilan oksidatif, karakteristik gelembung secara mikroskopis,
kinerja pembakaran, serta perubahan struktur kimia FAME pada bahan bakar B0,
B35, dan B100.
Penelitian dilakukan melalui serangkaian uji eksperimental di laboratorium,
ultrafine bubble dihasilkan dengan mengalirkan oksigen melalui nozzle venturi
sehingga terbentuk gelembung berdiameter di bawah 1 µm, kemudian
disirkulasikan ke dalam 2,5 liter bahan bakar dengan laju oksigen 1, 3, dan 5 lpm
selama 10-60 menit. Sampel sebelum dan sesudah perlakuan diuji untuk melihat
perubahan kinerja dan sifat fisikokimia, meliputi densitas, viskositas, dan bilangan
asam, serta stabilitas oksidatif berdasarkan metode standar ASTM untuk minyak
dan gas. Ukuran dan distribusi gelembung diamati menggunakan particle analyzer,
stabilitas muatan permukaan dianalisis dengan zeta analyzer, sedangkan potensi
perubahan pada struktur kimia FAME diidentifikasi melalui pengujian GC-MS.
Seluruh data kemudian dianalisis secara statistik untuk menilai besarnya pengaruh
UFB terhadap kualitas bahan bakar.
Hasil pengujian karakteristik fisika kimia menunjukkan adanya peningkatan
angka cetana seiring meningkatnya laju alir dan durasi injeksi UFB. Pada B0, angka
cetana naik dari 56,5 menjadi 63; pada B100 meningkat dari 59,2 menjadi 61,4; dan
pada B35 naik dari 57,2 menjadi 60,6 pada injeksi 5 lpm selama 60 menit.
Perlakuan UFB pada ketiga jenis bahan bakar tersebut juga menyebabkan sedikit
penurunan viskositas, densitas, suhu titik distilasi, dan titik nyala yang
mengindikasikan perbaikan kualitas pembakaran. Stabilitas oksidasi bahan bakar
menurun seiring bertambahnya volume dan durasi injeksi oksigen, namun masih
berada dalam batas standar mutu bahan bakar.
Hasil pengamatan karakteristik mikroskopis memperlihatkan bahwa ultrafine
bubble terdistribusi secara homogen di dalam bahan bakar dan mampu menurunkan
ukuran gelembung secara signifikan seiring bertambahnya durasi injeksi oksigen.
Perubahan diameter gelembung dominan pada B100 berkurang dari 12 nm menjadi
7 nm, pada B35 dari 295 nm menjadi 255 nm, serta pada B0 dari 141 nm menjadi
38 nm. Reduksi ukuran ini menunjukkan peran ultrafine bublke dalam
mendispersikan partikel dengan memutus ikatan aglomerat sehingga sistem
menjadi lebih stabil. Seiring bertambahnya waktu penyimpanan hingga minggu
keempat, ukuran gelembung kembali meningkat akibat terjadinya penggabungan
dan aglomerasi partikel, dengan diameter gelembung 16 nm pada bahan bakar
B100, 342 nm pada B35, dan 122 nm pada B0. Meskipun terjadi peningkatan
ukuran, bahan bakar yang diberi perlakuan ultrafine bubble tetap menunjukkan
kestabilan dispersi yang lebih baik dan masih beraada pada standar gelembung
ultrafine bubble dibandingkan sampel tanpa perlakuan. Zeta potensial negatif -25
turut membantu mempertahankan kestabilan sistem selama waktu simpan.
Secara Keseluruhan, perlakuan ultrafine bubble dengan laju 1, 3, dan 5 lpm selama
60 menit dan penyimpanan hingga 30 hari tetap memenuhi standar kualitas bahan
bakar B0, B35, dan B100. Analisis GC-MS mendukung bahwa perlakuan ultrafine
bubble tidak mengubah struktur utama FAME pada B100, hanya menimbulkan
oksidasi ringan pada senyawa minor. Penurunan kecil pada metil oleat dan metil
linoleat serta kestabilan metil palmitat menunjukkan degradasi minimal yang justru
berpotensi meningkatkan homogenitas, stabilitas kimia, dan efisiensi pembakaran.
Penurunan stabilitas oksidasi terlihat dari berkurangnya waktu induksi. Pada
B0, waktu induksi turun dari 186,9 menjadi 115,9 menit; pada B35 dari 194,35
menjadi 76,1 menit; dan pada B100 dari 77,33 menjadi 58,2 menit (perlakuan 5 lpm
selama 60 menit). Analisis regresi menunjukkan durasi injeksi optimum untuk
B100 adalah 100 menit dengan nilai stabilitas oksidasi BBM 49 menit, serta bahan
bakar B0 optimum pada 130 menit dengan stabilitas oksidasi BBM 45 menit, dan
bahan bakar B35 optimum pada 90 menit dengan Stabilitas Oksidasi 45 menit.
Hasil pengujian kinerja menunjukkan bahwa perlakuan ultrafine bubble
mampu meningkatkan kwalitas bahan bakar, daya mesin sekaligus menurunkan
konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang. Peningkatan daya tertinggi terjadi pada
bahan bakar B100 sebesar 18,2%, diikuti B35 sebesar 13,67% dan B0 sebesar
10,67%. Sementara itu, konsumsi bahan bakar mengalami penurunan masing
masing sebesar 19,40 ml/s untuk B100, 18,90 ml/s untuk B35, dan 16,58 ml/s untuk
B0. Selain itu, perlakuan UFB juga efektif menurunkan emisi, sebesar 51,7% untuk
B0, 37% untuk B35, dan 26% untuk B100. Temuan ini menegaskan bahwa injeksi
ultrafine bubble efektif dalam meningkatkan performa pembakaran, menurunkan
polusi serta efisiensi energi pada berbagai jenis bahan bakar diesel.

