Analisis Toleransi Salinitas Mutan Bawang Merah (Allium cepa var. Aggregatum) Varietas Maserati
Abstract
Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) merupakan tanaman berumbi yang termasuk ke dalam kategori hortikultura semusim yang penting bagi masyarakat. Data NOAA menunjukkan iklim di Indonesia mengalami perubahan sejak 1992-2022 yang mengakibatkan air laut naik dengan rata-rata kenaikannya sebesar 4,0 ± 0,4 mm tahun-1. Kenaikan air laut ini membuat lahan pertanian terutama lahan bawang merah menjadi salin, sehingga dibutuhkan varietas bawang merah yang toleran terhadap salinitas lewat pemuliaan tanaman menggunakan metode induksi mutasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi genotipe bawang merah hasil mutasi sinar gamma yang berpotensi toleran terhadap salinitas. Penelitian dilaksanakan dari bulan September 2025 hingga Desember 2025 di Kebun Percobaan Tajur 2 dan Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB. Penelitian ini menggunakan 15 genotipe mutan bawang merah varietas maserati dan satu bawang merah non mutan sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman genetik pada genotipe yang diteliti, sehingga terdapat genotipe yang toleran dan tidak toleran terhadap salinitas. Analisis keragaman genetik pada 15 genotipe mutan dan kontrol menggunakan karakter morfologi menunjukkan ketidakmiripan antara 0,20-0,52 membentuk dua grup. Kelompok I terdiri atas genotipe 14 dan 15 dan kelompok II terdiri atas genotipe 1 hingga 13 dan kontrol. Keragaman genetik berdasarkan karakter molekuler memiliki nilai ketidakmiripan, yaitu 0,11-0,45 dengan membentuk dua grup. Kelompok II hanya berisikan genotipe 1, sementara kelompok I terdiri atas genotipe 2 hingga 15 dan kontrol. Analisis MVSI menunjukkan bahwa genotipe 12 dan 2 merupakan genotipe terbaik. Nilai MVSI pada genotipe 12 dan 2 secara berturut-turut adalah 0,69 dan 0,68, sementara itu nilai MVSI pada kontrol sebesar 0,51. Analisis klaster menunjukkan genotipe 2 memiliki kekerabatan lebih dekat dengan kontrol dan memiliki kekerabatan Dengan demikian, genotipe 12 dan 2 berpotensi untuk ditanam di lahan salin karena memiliki nilai toleransi yang paling baik. Shallot (Allium cepa var. aggregatum) is a bulbous plant classified as an important annual horticultural crop for communities. NOAA data indicate that Indonesia’s climate has changed from 1992 to 2022, resulting in sea level rise at an average rate of 4.0 ± 0.4 mm tahun-1. This sea level rise has caused agricultural land, particularly shallot fields, to become saline. Therefore, it is necessary to develop salinity-tolerant shallot varieties through plant breeding using mutation induction methods. This study aimed to identify gamma ray–induced mutant shallot genotypes with potential tolerance to salinity. The research was conducted from September 2025 to December 2025 at Tajur 2 Experimental Field and the Laboratory of the Center for Tropical Horticulture Studies (PKHT), IPB University. The study evaluated 15 mutant genotypes of the Maserati shallot variety and one non-mutant shallot as a control. The research findings indicate that genetic diversity exists among the studied genotypes, resulting in the presence of both salt-tolerant and salt-sensitive genotypes. Genetic diversity analysis of the 15 genotypes mutan and control based on morphological characters revealed dissimilarity values ranging from 0.20 to 0.52, forming two groups. Group I consisted of genotypes 14 and 15, while Group II consisted of genotypes 1 to 13 and the control. Genetic diversity based on molecular characters showed dissimilarity values ranging from 0.11 to 0.45, also forming two groups. Group II consisted only of genotype 1, whereas Group I included genotypes 2 to 15 and the control. The MVSI analysis indicated that genotypes 12 and 2 were the best-performing genotypes. The MVSI values of genotypes 12 and 2 were 0.69 and 0.68, respectively, while the control had an MVSI value of 0.51. Cluster analysis showed that genotype 2 had a closer genetic relationship to the control. In conclusion, genotypes 12 and 2 have strong potential to be cultivated in saline soils due to their superior tolerance levels.

