Show simple item record

dc.contributor.authorPravitasari, Andrea Emma
dc.contributor.authorRustiadi, Ernan
dc.contributor.authorPribadi, Didit Okta
dc.contributor.authorHadianto, Adi
dc.contributor.authorMulya, Setyardi Pratika
dc.contributor.authorRusdiana, Omo
dc.contributor.authorWidjaja, Hermanu
dc.contributor.authorSupijatno
dc.contributor.authorPurwantiningrum
dc.contributor.authorRosandi, Vely Brian
dc.contributor.authorBahroin Idris Tampubolon
dc.contributor.authorWahid, Muhammad
dc.contributor.authorNikamasari, Hardini
dc.date.accessioned2026-04-06T01:43:28Z
dc.date.available2026-04-06T01:43:28Z
dc.date.issued2005-12
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172896
dc.description.abstractKoridor Ekosistem RIMBA yang membentang di bagian tengah Pulau Sumatera merupakan kawasan strategis nasional yang memiliki arti penting dalam mempertahankan kesinambungan ekologis antarkawasan konservasi, khususnya di wilayah Provinsi Riau, Provinsi Jambi, dan Provinsi Sumatera Barat yang kemudian disingkat menjadi RIMBA. Wilayah ini menghubungkan tiga bentang alam besar, yakni Taman Nasional Kerinci Seblat, Bukit Tigapuluh,Berbak serta Hutan Lindung Bukit Batabuh. Kawasan ini berfungsi vital dalam menjaga konektivitas ekologis bagi spesies prioritas konservasi, termasuk harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), dan tapir (Tapirus indicus), serta menopang keberlanjutan fungsi ekosistem hulu-hilir yang menyediakan jasa lingkungan penting bagi wilayah sekitarnya (Sulistyawan et al., 2019). Peran ini selaras dengan kajian global mengenai pentingnya koridor ekologis dalam mencegah fragmentasi habitat (Beier et al., 2006; Cushman et al., 2013) dan upaya mempertahankan konektivitas lanskap untuk konservasi biodiversitas (Ayram et al., 2016; Wyborn, 2011). Secara ekologis, kawasan RIMBA juga berperan sebagai penyerap karbon, penyeimbang iklim, dan penyedia air bersih bagi jutaan penduduk (Sulistyawan et al., 2019; Sulistyawan et al., 2017), sebagaimana juga ditunjukkan oleh studi-studi ekosistem tropis yang menekankan pentingnya fungsi hutan dalam siklus hidrologi dan mitigasi perubahan iklim (Reid et al., 2005; Chazdon, 2013). Namun, konektivitas ekologis tersebut kini semakin terancam akibat degradasi lahan dan tekanan eksploitasi ekonomi yang tidak terkendali (Minerva et al., 2021), suatu kondisi yang juga ditemukan di berbagai lanskap tropis lain di mana tekanan pembangunan mengurangi integritas ekologis kawasan lindung (Arts et al., 2017; Estrada-Carmona et al., 2014). ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherEkonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL)-FEM, IPB Universityid
dc.titleKajian Insentif Dan Disinsentif Termasuk Imbal Jasa Ekosistem Dalam Pelaksanaan Tata Ruang Di Koridor Rimbaid
dc.typeTechnical Reportid
dc.subject.keywordKoridor Ekosistem RIMBAid
dc.subject.keywordKonektivitas ekologis & konservasi biodiversitasid
dc.subject.keywordSpesies kunci Sumatera (harimau, gajah, tapir)id
dc.subject.keywordAncaman alih fungsi lahan & eksploitasiid
dc.subject.keywordTata kelola dan insentif lingkungan (PES)id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record