Dampak Musim Hujan terhadap Fitoplankton, Respons Imun, dan Kinerja Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Tambak Intensif.
Date
2026Author
Prakarsa, Rizki Gencar
Hastuti, Yuni Puji
Nirmala, Kukuh
Supriyono, Eddy
Metadata
Show full item recordAbstract
Tantangan dalam budidaya udang vaname salah satunya adalah musim
hujan. Musim hujan memberikan dampak negatif terhadap kualitas air di tambak,
di mana fluktuasi parameter lingkungan menyebabkan ketidakstabilan komunitas
fitoplankton. Ketidakstabilan tersebut dapat menurunkan respons imun udang dan
kinerja produksinya. Fitoplankton memiliki peran penting dalam menjaga
keseimbangan ekosistem tambak. Perubahan dominansi fitoplankton yang terjadi
secara ekstrem dan terus-menerus setiap minggunya dapat meningkatkan risiko
penyakit, karena keseimbangan antara lingkungan, patogen, dan inang menjadi
tidak stabil. Akibatnya, performa produksi udang pun cenderung menurun.
Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak musim hujan terhadap
fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname (Litopenaeus
vannamei) pada tambak intensif. Penelitian dilaksanakan di tambak udang
Malingping selama satu siklus produksi yang dilakukan secara non eksperimental
dengan pendekatan observasi lapangan. Lokasi pengamatan terdiri atas enam
petak tambak. Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak empat titik dan
digabung secara komposit pada setiap petak tambak. Sampel fitoplankton diambil
menggunakan plankton net berukuran 15 µm dengan metode pasif sebanyak 30
liter. Sampel disimpan pada botol HDPE, dan diawetkan dengan menggunakan
H2SO4 ataupun lugol. Pengambilan darah udang dilakukan sebanyak 20 ekor per
petak tambak menggunakan syringe 1 mL yang diencerkan dengan antikoagulan
1:2, lalu dimasukkan ke dalam microtube. Semua sampel tersebut dimasukkan ke
dalam coolbag.
Data yang diperoleh di antaranya yaitu curah hujan, kemudian kualitas air
(fisika, kimia, dan biologi), lalu metrik stabilitas fitoplankton (turnover, mean
rank abundance (MRA), synchrony, dan stability), kemudian struktur komunitas
fitoplankton (kelimpahan, keragaman, keseragaman, dan dominansi), lalu respons
imun udang (total haemocyte count (THC), aktivitas fagositik (AF), respiratory
burst (RB), dan phenoloxidase (PO)), kemudian kinerja produksi (average daily
growth (ADG), average body weight (ABW), kematian udang, survival rate (SR),
dan feed conversion ratio (FCR)). Analisis yang digunakan yaitu regresi panel
dengan menggunakan common effect model (CEM), lalu dilakukan eksplorasi
menggunakan principal component analysis (PCA) dan analisis klaster k-means.
Hasil regresi yang tidak memenuhi uji asumsi, dilakukan transformasi logaritmik,
akar kuadrat (SQRT), ataupun box-cox, lalu jika tetap tidak memenuhi uji asumsi
maka dilakukan robust standard errors.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim hujan dengan status curah
hujan yang tinggi (300-500 mm bulan-1), memiliki dampak yang besar terhadap
kestabilan kualitas air, fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi, hal
tersebut terjadi selama penelitian dari day of culture (DOC) 0 sampai 70.
Parameter seperti suhu, salinitas, kecerahan, total ammonia nitrogen (TAN), nitrit,
total organic matter (TOM) berada di luar batas optimal budidaya udang. Selama
sembilan kali pengambilan sampel, kelimpahan fitoplankton didominasi oleh
kelas yang berbeda-beda, di mana Cyanophyceae menjadi kelas yang sering
mendominasi tiap sampling, walaupun keberadaannya juga sempat tergantikan
oleh jenis yang lain. Nilai Turnover dan MRA fitoplankton memiliki nilai yang
tinggi, hal tersebut menunjukkan rendahnya stabilitas fitoplankton. Synchrony
memiliki nilai rata-rata sebesar 0,37, yang artinya beberapa spesies merespons
perubahan lingkungan yang berbeda-beda. Hasil stability sebesar satu juga tidak
baik pada petak tambak. Hasil pengukuran respons imun, termasuk THC, AF, RB,
dan PO, menunjukkan tren penurunan seiring mendekati DOC 70. Selain itu, nilai
ADG yang diperoleh sempat rendah, disertai dengan tingginya angka kematian
udang di waktu akhir budidaya. Nilai FCR berada di atas 1,4 di semua kolam,
sedangkan SR kurang dari 46%. Hasil ini diduga karena dampak dari paparan
toksin yang berasal dari fitoplankton kelas Cyanophyceae (Aphanizomenon sp.,
Anabaena sp., dan Trichodesmium sp.), walaupun hal tersebut perlu dikaji lebih
lanjut berdasarkan hasil penelitian ilmiah melalui uji toksisitas toksin BGA
terhadap respons imun udang dan kinerja produksinya pada skala laboratorium.
Hasil regresi panel (Y = kelimpahan fitoplankton ; X = kualitas air)
dengan transformasi logaritmik menunjukkan bahwa alkalinitas total, TVC, TBV,
dan nitrat berpengaruh signifikan positif (a = 0,05), sedangkan DO berpengaruh
signifikan negatif terhadap kelimpahan fitoplankton (a = 0,05), dengan R-squared
sebesar 58% dan p-value sebesar 1,53 x 10-7, selanjutnya regresi panel (Y = THC;
X = fitoplankton) dengan SQRT dan robust standard errors menunjukkan bahwa
kelimpahan dan keragaman berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared
sebesar 55% dan p-value sebesar 7 x 10-9, serta regresi panel (Y = ADG ;
X = respons imun udang) dengan transformasi box-cox dan robust standard errors
menunjukkan bahwa THC berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared
sebesar 76% dan p-value sebesar < 2,22 x 10-16. Sementara itu, hasil
regresi panel (Y = Jumlah kematian udang; X = respons imun udang)
menggunakan transformasi box-cox dan robust standard errors menunjukkan
bahwa THC dan RB berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan R-squared
sebesar 82% dan p-value sebesar < 2,22 x 10-16. Semua model dalam analisis
regresi panel menggunakan CEM, karena hasil uji Chow dan Lagrange Multiplier
tidak signifikan. Hasil PCA menunjukkan bahwa variabel yang menjadi
komponen utama selama musim hujan di antaranya yaitu suhu, pH siang, salinitas,
TAN, kecerahan, keragaman, dominansi, MRA, THC, AF, size, dan ABW, hal
tersebut berdasarkan nilai eigenvector yang dominan pada masing-masing
variabel terhadap sumbu utama yang terbentuk. Hasil biplot PCA menunjukkan
bahwa kematian udang yang tinggi dimulai saat DOC 42, hal tersebut juga
didukung dengan hasil analisis klaster k-means yang terbagi atas dua klaster
berdasarkan uji dengan metode silhouette, di mana klaster satu terdiri dari DOC
10 hingga 33, sedangkan klaster dua terdiri atas DOC 42 hingga 70. Penelitian ini
menunjukkan bahwa musim hujan memiliki dampak yang negatif terhadap
kondisi fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname pada
tambak intensif.
Collections
- MT - Fisheries [3247]

