Analisis Hubungan Karakteristik Kader Posyandu dengan Kualitas Data Pengukuran Status Gizi dalam E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara
Abstract
Kualitas data status gizi dalam sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) sangat bergantung pada akurasi pengukuran antropometri oleh kader posyandu. Namun, kompetensi kader dan faktor-faktor yang memengaruhi kualitas data pengukurannya masih perlu dikaji, khususnya di daerah dengan tantangan geografis seperti Kabupaten Toraja Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik kader Posyandu dengan kualitas data tinggi badan balita dalam aplikasi E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara.
Penelitian ini menggunakan desain metode campuran sequential explanatory dengan pendekatan utama kuantitatif (cross-sectional) dilanjutkan dengan pengumpulan data kualitatif (wawancara mendalam). Sebanyak 34 kader posyandu dan 188 balita dari delapan posyandu dipilih secara purposif, serta 8 informan kunci dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, observasi keterampilan pengukuran tinggi badanmenggunakan daftar tilik, pengukuran presisi dan akurasi tinggi badan berulang (kader dan gold standard), serta wawancara mendalam. Analisis data kuantitatif menggunakan uji Chi square, regresi logistik, uji diagnostik (ROC, sensitivitas, spesifisitas, PPV, dan NPV), dan analisis Bland-Altman plot. Analisis kualitatif menggunakan analisis tematik dan SWOT.
Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar kader memiliki pengetahuan (70,6%) dan keterampilan (79,4%) yang kurang. Akurasi (82,4%) dan presisi (64,7%) pengukuran kader tergolong tidak baik. Pekerjaan merupakan faktor determinan utama, di mana kader tidak bekerja/Ibu Rumah Tangga memiliki akurasi (OR=12,6) dan presisi (OR=53,3) yang lebih baik dibanding kader petani. Data E-PPGBM cenderung underestimate prevalensi stunting (30,9% vs 39,9% menurut gold standard) dengan sensitivitas 70,7% dan spesifisitas 95,6%. Analisis kualitatif mengungkap tantangan validasi eksternal, risiko data di level input, dan hambatan koordinasi dalam pemanfaatan data.
Kualitas data pengukuran tinggi badan oleh kader masih rendah dengan pekerjaan sebagai faktor dominan. Data E-PPGBM berpotensi menyebabkan underdiagnosis stunting. Diperlukan peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan berjenjang dan berkelanjutan, standarisasi dan kalibrasi alat ukur antropometri, monitoring dan evaluasi secara berkala, penguatan sistem validasi data, dan sinergi lintas sektor untuk meningkatkan akurasi data dan efektivitas program penurunan stunting.
Collections
- MT - Human Ecology [2423]

