Desain Sistem Pengendalian Keamanan Pangan Segar Nasional: Model Untuk Pangan Segar Asal Tumbuhan
Abstract
Pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Praktik penanganan di sepanjang rantai pasok mulai dari budidaya, pascapanen, distribusi, hingga penjualan sering kali belum memenuhi standar keamanan pangan yang konsisten. Hal ini dapat menimbulkan berbagai titik kritis yang berpotensi memicu kontaminasi biologis, kimia, dan fisik. Upaya pengendalian keamanan pangan segar saat ini masih belum dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi dalam hal penjaminan, pengawasan, dan pembinaan. Kondisi ini juga belum didukung oleh kapasitas kelembagaan pengawas keamanan pangan yang memadai baik dari aspek sumber daya manusia, ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, maupun standar pelaksanaan tugas dan fungsi.
Penelitian ini bertujuan yang pertama untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menjadi titik kritis pengendalian keamanan pangan dalam penanganan pangan segar asal tumbuhan. Komoditas yang dianalisis sebagai studi kasus adalah daun selada dan apel impor. Kedua, merancang model sistem pengendalian keamanan pangan segar yang komprehensif dan terintegrasi; dan ketiga, menyusun strategi penguatan kelembagaan pengawas keamanan pangan segar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Failure Mode Effect and Critical Analysis (FMECA) untuk mengidentifikasi dan menganalisis titik kritis penanganan pangan segar asal tumbuhan. Model Based System Engineering (MBSE) untuk merancang sistem pengendalian keamanan pangan segar, serta Interpretive Structurala Modelling (ISM) dan Best-Worst Method (BWM) untuk menganalisis strategi penguatan kelembagaan pengawas keamanan pangan segar.
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa dalam penanganan daun selada terdapat tiga faktor yang paling kritis yaitu suhu penyimpanan yang tidak sesuai, pencucian yang tidak menggunakan air bersih, dan wadah atau ruang penyimpanan yang kotor/tidak higienis. Apel impor memiliki titik kritis pada proses penyimpanan yang melebihi kapasitas ruang penyimpanan, muatan yang berlebih serta penumpukan di dalam kendaraan kontainer yang tidak rapi.
Sistem pengendalian keamanan pangan yang dirancang berkontribusi dalam menjadikan fungsi penjaminan, pengawasan, dan pembinaan keamanan pangan lebih terintegrasi. Sistem ini menggabungkan berbagai komponen informasi pangan segar asal tumbuhan dalam satu kesatuan dan memungkinkan para pengguna untuk melakukan fungsi yang lebih dinamis.
Strategi penguatan kelembagaan pengawas keamanan pangan segar yang menjadi prioritas adalah “standardisasi pelayanan penjaminan dan pengawasan”. Strategi tersebut memiliki bobot yang tinggi pada kriteria dampak terhadap kinerja kelembagaan dan dukungan regulasi/kebijakan yang kuat. Penelitian ini memberikan paradigma baru dalam pengendalian keamanan pangan segar baik secara mekanisme pengawasan, kelembagaan pengawas, dan objek yang diawasi secara terintegrasi.
