Induksi Proliferasi Tunas dan Umbi Bawang Putih Aksesi Introduksi dengan Penambahan Sitokinin dan Gula secara In Vitro
Abstract
Penelitian ini berfokus pada upaya perbanyakan bawang putih (Allium sativum L.) aksesi Introduksi secara in vitro untuk mengatasi ketergantungan impor karena produksi lokal yang rendah. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh kombinasi jenis dan konsentrasi sitokinin dalam induksi tunas serta kombinasi konsentrasi gula dan jenis retardan paling optimal dalam induksi umbi bawang putih aksesi Introduksi secara in vitro. Rancangan percobaan pertama menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal diulang sebanyak 5 kali, faktor tersebut adalah jenis sitokinin yang diuji dengan 2 taraf (BAP dan 2-iP) dengan konsentrasi (0, 1, 2, 3 mg L-1) dalam media MS yang dimodifikasi. Rancangan percobaan kedua menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial, faktor pertama adalah kombinasi retardan (coumarin dan paclobutrazol) dengan 4 tingkat konsentrasi gula dalam media MS yang dimodifikasi. Faktor kedua adalah tunas adventif dari percobaan pertama. Parameter yang diamati adalah persentase eksplan aseptik hidup, waktu muncul tunas, jumlah tunas, waktu mulai senecence, waktu muncul umbi, persentase eksplan berumbi, jumlah akar, panjang akar, persentase umbi hidup, diameter umbi, total akar, dan panjang akar. Perlakuan sterilisasi eksplan terbaik diperoleh dari perlakuan StB (perendaman dalam larutan 4 g L-1 benomil 50% dan streptomisin sulfat 20% selama 60 menit sebelum masuk LAFC dan perendaman dalam antibiotik cefotaxime 2000 mg L-1 selama 1?2 menit saat akan ditanam dalam media. Perlakuan sitokinin terbaik adalah sitokinin 2-iP 2 mg L-1, dikombinasikan dengan retardan coumarin cenderung menghasilkan planlet berumbi yang lebih bertahan hingga fase aklimatisasi daripada penggunaan retardan paclobutrazol. Konsentrasi gula yang paling optimal adalah 80 g L-1. This study focuses on efforts to propagate introduced garlic accession (Allium sativum L.) in vitro to overcome import dependency due to low local production.. This study aims to examine the effects of cytokinin types and concentrations on shoot induction, and the combinations of sugar concentrations and retardant types on the in vitro introduction accession garlic bulbs. First experiment design used a single-factor Randomised Complete Group Design (RKLT) repeated 5 times, with the factor being the type of cytokinin tested at 2 levels (BAP and 2-iP) with 4 types of concentrations in modified MS medium. Second experiment design used a factorial Randomized Complete Group Design (RKLT), the first factor being a combination of retardants (coumarin and paclobutrazol) combined with 4 levels of sugar concentrations in modified MS medium. The second factor is adventitious buds from the first experiment. The parameters observed are percentage of live aseptic explants, bud emergence time, number of buds, start senescence time, tuber emergence time, percentage of tuberous explants, number of roots, root length, percentage of live tubers, tuber diameter, total roots, and root length. Highest percentage of live aseptic explant was obtained from StB treatment (4 g L-1 50% benomyl and 4 g L-1 20% streptomycin sulphate solution immersion before entering LAFC for 60 minutes, 2000 mg L-1 cefotaxime antibiotic immersion for 1?2 minutes before planting). The best cytokinin treatment was 2-iP cytokinin 2 mg L-1, combined with coumarin retardant usage tended to produce tuber planlets which can stay alive throughout the treatments until the acclimatisation phase than paclobutrazol retardant usage. The most optimal sugar concentration was 80 g L-1.
