Identifikasi Spesies Marine Borer di Pantai Ternate
Abstract
Pantai Ternate berada pada kawasan laut tropis dengan suhu perairan hangat
dan salinitas yang tinggi sepanjang tahun. Kondisi tersebut mendorong tingginya
tingkat produktivitas biologi dan memungkinkan berbagai organisme laut
berkembang dengan baik. Penggunaan kayu untuk infrastruktur pesisir di Ternate
seperti dermaga, rumah panggung, kapal dan perahu serta berbagai fasilitas
pendukung aktivitas masyarakat pesisir mengalami tantangan akibat degradasi dari
serangan organisme yang dikenal dengan marine borer (organisme penggerek laut).
Marine borer merupakan agen biodeteriorasi utama di lingkungan laut yang
menyebabkan degradasi material organik. Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa serangan marine borer tidak hanya distribusinya yang luas, tetapi juga
bervariasi dalam jenis spesies dan intensitas serangan. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengidentifikasi jenis spesies marine borer yang ada di Pantai Ternate serta
mengetahui jenis kayu yang berada di pesisir pantai Ternate yang terserang marine
borer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengumpanan kayu
dan observasi langsung. Selain itu dilakukan pengukuran parameter lingkungan
seperti salinitas, suhu, dan pH air laut. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2024
hingga Juni 2024 di pantai Ternate.
Pengumpanan kayu dilakukan di dua lokasi, yaitu Pantai Dufa-dufa di
Kecamatan Ternate Utara dan Pantai Falajawa di Kecamatan Ternate Tengah.
Observasi dilakukan di lima kecamatan yang mencakup sembilan pantai, termasuk
Pantai Falajawa, Pantai Dufa-dufa, Pantai Sulamadaha, Pantai Tobololo, Pantai
Tolire di Kecamatan Ternate Barat, serta Pantai Afetaduma, Ake Rica, Kastela di
Kecamatan Pulau Ternate, dan Pantai Gambesi di Kecamatan Ternate Selatan.
Pengumpanan kayu menggunakan kayu tusam (Pinus merkusii) dan kayu karet
(Hevea brasiliensis), dengan cara merakit kayu sesuai standar SNI 7207:2014,
kemudian ditenggelamkan ke laut. Metode observasi dilakukan dengan mengambil
kayu di sekitar pantai untuk diperiksa adanya serangan penggerek laut serta
mengamati dan mengidentifikasi karakteristik kayu secara visual dan makroskopis.
Semua spesies penggerek laut yang ditemukan diambil dengan pinset, dimasukkan
ke dalam tabung koleksi berukuran 1,5 ml berisi alkohol 70%, kemudian diperiksa
dan diidentifikasi menggunakan mikroskop di Laboratorium IPB. Hasil identifikasi
menunjukkan adanya empat spesies penggerek laut, yaitu Bankia carinata dari
filum Moluska, serta Chelura insulae, Sphaeroma terebrans, dan Cenoloba
obliteralis dari filum Arthropoda. B. carinata ditemukan menggerek kayu yang
umpan, sedangkan ketiga spesies lain ditemukan pada kayu yang berada di pesisir
pantai Ternate dari hasil observasi.
Kayu tusam dan kayu karet menunjukkan tingkat kerusakan yang lebih tinggi
di Pantai Falajawa dibandingkan Pantai Dufa-Dufa. Perbedaan tingkat kerusakan
ini berkaitan dengan perbedaan parameter lingkungan perairan, seperti suhu,
salinitas, dan pH air laut, yang memengaruhi intensitas serangan penggerek laut,
khususnya spesies B. carinata. Adanya lubang pada permukaan kayu
mengindikasikan tingginya kerusakan kayu akibat serangan marine borer. Lokasi
penelitian memiliki karakteristik perairan tropis dengan kisaran suhu 20 °C hingga
31 °C, salinitas antara 30 ppt–35 ppt, serta pH 7,9–8,4, merupakan kondisi optimal
bagi pertumbuhan dan aktivitas organisme perusak kayu laut, seperti B. carinata,
C. insulae, S. terebrans, dan C. obliteralis. Sementara itu, hasil identifikasi jenis
kayu terserang marine borer yang ditemukan disekitar pantai dari metode observasi,
setidaknya terdapat tiga jenis kayu, yaitu pedada (Sonneratia sp.), nyamplung
(Calophyllum sp.), dan waru laut (Hibiscus sp.). Kayu-kayu yang telah terpapar
dipantai dalam jangka waktu lama menunjukkan tingkat kerusakan yang lebih berat
akibat aktivitas penggerek laut.
Collections
- MT - Forestry [1541]
