Pengaruh Self-compassion, Dukungan Sosial, Gaya Pengasuhan, Interaksi Ibu-Anak terhadap Kemandirian Anak Disabilitas.
Abstract
Kemandirian anak disabilitas merupakan kemampuan anak untuk
melakukan tugas rumah tangga meliputi kebutuhan pribadi maupun kebutuhan
keluarga. Kemandirian anak disabilitas bisa tercapai dengan adanya keterlibatan
orang tua dalam mengasuh dan melatih anak agar mencapai kemandirian.
Kemandirian anak disabilitas berkaitan dengan responsivitas pengasuh utama.
Oleh karena itu, penelitian ini memiliki fokus meneliti self-compassion ibu,
dukungan sosial yang diterima ibu, penerapan gaya pengasuhan dan interaksi
ibu-anak terhadap kemandirian anak disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk:
(1) mengidentifikasi karakteristik anak, karakteristik keluarga, self-compassion,
dukungan sosial, gaya pengasuhan, interaksi ibu-anak dan kemandirian anak
disabilitas; (2) mengidentifikasi perbedaan dari karakteristik anak, karakteristik
keluarga, self-compassion, dukungan sosial, gaya pengasuhan, interaksi ibuanak
dan kemandirian anak disabilitas; (3) mengidentifikasi hubungan
karakteristik anak, karakteristik keluarga dengan self-compassion, dukungan
sosial, gaya pengasuhan, interaksi ibu-anak dan kemandirian anak disabilitas;
dan (4) mengidentifikasi pengaruh self-compassion, dukungan sosial, gaya
pengasuhan, interaksi ibu-anak dan kemandirian anak disabilitas yang meliputi
tunagrahita, ASD dan down syndrome.
Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross sectional
yang dilaksanakan di Kota Bogor, Jawa Barat. Penentuan lokasi dan sampel
penelitian dilakukan secara purposive dengan metode non-probability sampling.
Sampel terdiri dari 155 ibu yang memiliki anak disabilitas dibawah 18 tahun
terbagi menjadi tiga kelompok yaitu 64 ibu dengan anak tunagrahita, 52 ibu
dengan anak ASD dan 39 ibu dengan anak down syndrome. Data dikumpulkan
melalui wawancara secara langsung dan diolah melalui tahapan editing,
cleaning, coding, entry, scoring, dan analyzing. Analisis menggunakan
Microsoft Excel 2013, Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 25,
dan Smart Partial Least Square (Smart-PLS). Analisis data kuantitatif dilakukan
menggunakan analisis deskriptif, analisis analisis uji beda one way anova,
analisis uji korelasi dan analisis uji pengaruh. Penelitian ini telah mendapatkan
izin etik IPB dengan nomor SK 1463/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2024.
Hasil penelitian menunjukkan anak disabilitas terkategori anak usia 11,56
tahun. Berdasarkan jenis kelamin, lebih dari setengah anak disabilitas secara
keseluruhan merupakan laki-laki. Berdasarkan urutan kelahiran, hampir
setengah dari seluruh anak pada ketiga kelompok disabilitas merupakan anak
bungsu. Berdasarkan karakteristik keluarga menunjukkan mayoritas ibu dan
ayah anak disabilitas berada pada kategori dewasa madya. Berdasarkan tingkat
pendidikan tertinggi yang dicapai oleh ibu dan ayah pada ketiga kelompok
disabilitas rata-rata adalah SMA. Mayoritas pasangan orang tua tergolong dalam
pernikahan muda yang ditandai dengan usia pernikahan di bawah dua puluh lima
tahun. Berdasarkan struktur keluarga, separuh dari seluruh keluarga reponden
tergolong keluarga kecil dengan anggota kurang dari empat orang. Selain itu,
rata-rata tingkat self-compassion, dukungan sosial, dan interaksi ibu-anak
kelompok tunagrahita, ASD dan down syndrome terkategori sedang.
Kemandirian anak disabilitas meliputi tunagrahita, ASD dan down syndrome
terkategori rendah.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan karakteristik keluarga
meliputi usia ibu, usia ayah, status pekerjaan ayah, lama menikah, besar keluarga
dan jenis kelamin anak. Terdapat perbedaan signifikan pada variabel Selfcompassion
diantara ibu yang memiliki anak disabilitas meliputi tunagrahita,
ASD dan down syndrome. Terdapat perbedaan signifikan pada lima dari enam
dimensi self-compassion, yaitu self-kindness, mindfulness, self-judgement,
isolation, dan over identication.
Hasil analisis korelasi menunjukkan pada kelompok tunagrahita, lama
pendidikan ibu dan pendapatan keluarga menunjukkan hubungan dengan selfcompassion
ibu. Pada kelompok ASD hanya lama pendidikan ibu yang
berhubungan dengan self-compassion. Terdapat korelasi signifikan antara lama
pendidikan dan pendapatan keluarga terhadap dukungan sosial pada kelompok
tunagrahita. Pada interaksi ibu-anak terdapat korelasi yang signifikan pada usia
anak kelompok down syndrome. Kemandirian anak tunagrahita menunjukkan
adanya korelasi antara usia anak, usia ibu dan lama pernikahan orang tua. Pada
anak down syndrome menunjukkan adanya korelasi signifikan antara usia anak
dengan kemandirian anak down syndrome.
Hasil analisis pengaruh langsung kelompok tunagrahita menunjukkan
bahwa self-compassion, gaya pengasuhan, interaksi ibu-anak berpengaruh
langsung positif signifikan terhadap kemandirian anak. Sedangkan dukungan
sosial menunjukkan pengaruh negatif signifikan terhadap kemandirian anak.
Pada kelompok ASD, self-compassion berpengaruh negatif terhadap
kemandirian anak sedangkan dukungan sosial berpengaruh positif terhadap
kemandirian anak. Analisis pengaruh kelompok keseluruhan menunjukkan
adanya pengaruh langsung positif signifikan antara interaksi ibu-anak terhadap
kemandirian anak disabilitas.
Hasil analisis pengaruh tidak langsung menunjukkan pada kelompok
tunagrahita, dukungan sosial terbukti berpengaruh terhadap kemandirian anak
melalui self-compassion. Selain itu, gaya pengasuhan berpengaruh terhadap
kemandirian anak dengan interaksi ibu-anak sebagai mediator. Pada kelompok
ASD dan down syndrome tidak ditemukan adanya pengaruh tidak langsung yang
signifikan antar variabel yang diteliti. Pada kelompok keseluruhan menunjukkan
dua mediasi yang signifikan yaitu dukungan sosial mempengaruhi kemandirian
anak melalui interaksi ibu-anak sebagai mediator. Gaya pengasuhan
berpengaruh terhadap kemandirian anak dengan interaksi ibu-anak sebagai
mediator.
Collections
- MT - Human Ecology [2422]
