Show simple item record

dc.contributor.advisorEkastuti, Damiana Rita
dc.contributor.advisorMohamad, Kusdiantoro
dc.contributor.advisorPrasetyaningtyas, Wahono Esthi
dc.contributor.authorSULISTYANA, YANTI
dc.date.accessioned2026-01-20T06:45:45Z
dc.date.available2026-01-20T06:45:45Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172171
dc.description.abstractKanker merupakan penyebab kematian utama di dunia dan Indonesia. Busulfan, sebagai salah satu obat kemoterapi untuk kanker hematopoietik dapat mengganggu siklus reproduksi wanita dan menyebabkan kegagalan ovarium. Ciplukan (Physalis angulata L.) mengandung fitosteroid yang berpotensi menyeimbangkan homeostasis hormon reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekstrak daun ciplukan dalam perbaikan siklus reproduksi dan tingkat keberhasilan kebuntingan tikus betina setelah pemberian busulfan. Metode meliputi uji in vitro, in vivo, dan in silico. Uji in vitro mengukur aktivitas antioksidan, kandungan fitosteroid, total fenol, dan total flavonoid. Uji in vivo menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan, yaitu: kontrol, busulfan (dosis 300 mg/kgBB), ciplukan (dosis 40 mg/kgBB selama 28 hari), busulfan diikuti ciplukan (selang 14 hari), dan busulfan bersamaan ciplukan (bersamaan) untuk mengevaluasi perbaikan siklus reproduksi dan tingkat keberhasilan kebuntingan. Profiling metabolit menggunakan LC-HRMS dan analisis in silico menggunakan farmakologi jaringan dan penambatan molekuler untuk menganalisis mekanisme molekuler dari kandungan metabolit. Ekstrak ciplukan menunjukkan aktivitas antioksidan sedang, akibat peran kombinasi fitosteroid, fenolik, dan flavonoid. Pemberian ekstrak ciplukan in vivo dapat memperbaiki siklus estrus akibat kerusakan oleh busulfan, tetapi memiliki efek menurunkan tingkat keberhasilan kebuntingan seperti pada pemberian busulfan. Profiling metabolit menghasilkan 77 metabolit, dengan metabolit fitosteroid Physalin F berperan sebagai modulator hormonal, sedangkan flavonoid Albanol A dan Rutin berperan sebagai antioksidan. Physalin F menunjukkan sifat antagonis terhadap estrogen reseptor 1 (ESR1), sebaliknya Albanol A bersifat agonis ESR1. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun ciplukan memiliki mekanisme ganda yang mampu memperbaiki siklus reproduksi akibat busulfan tetapi menurunkan tingkat keberhasilan kebuntingan pada tikus betina.
dc.description.sponsorshipLembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePotensi Ekstrak Daun Ciplukan (Physalis angulata L.) untuk Perbaikan Reproduksi Tikus Betina Pasca Injeksi Busulfanid
dc.title.alternativePotential of Ciplukan (Physalis angulata L.) Leaf Extract for Reproductive Rehabilitation in Female Rats after Busulfan Injection
dc.typeTesis
dc.subject.keywordciplukanid
dc.subject.keywordfitosteroidid
dc.subject.keywordreseptor ESR1id
dc.subject.keywordsiklus estrusid
dc.subject.keywordtingkat kebuntinganid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record