| dc.contributor.advisor | Sukenda | |
| dc.contributor.advisor | Widanarni | |
| dc.contributor.advisor | Yuhana, Munti | |
| dc.contributor.author | ISNAWATI, NURUL DWI | |
| dc.date.accessioned | 2026-01-20T06:11:58Z | |
| dc.date.available | 2026-01-20T06:11:58Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172167 | |
| dc.description.abstract | Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas
perikanan unggulan dengan nilai ekonomi tinggi di pasar global dan produksi yang
terus meningkat setiap tahunnya. Proses budidaya udang vaname banyak
menghadapi kendala yaitu serangan penyakit, salah satunya white spot disease yang
disebabkan oleh infeksi White Spot Syndrome Virus. Pengendalian patogen pada
udang biasanya dilakukan dengan pemberian antibiotik, namun penggunaannya
dapat meningkatnya resistansi dan risiko residu yang berbahaya bagi lingkungan.
Upaya yang dapat dilakukan yaitu mencari alternatif yang lebih aman dan ramah
lingkungan, antara lain dengan pemberian mikrokapsul sinbiotik dengan probiotik
tunggal dan gabungan. Penelitian ini didesain untuk mengevaluasi efektivitas
pemberian sinbiotik Pseudoalteromonas piscicida 1UB, Bacillus NP5 dan prebiotik
Mannanoligosakarida (MOS) yang diaplikasikan melalui pakan untuk
meningkatkan kinerja pertumbuhan, meningkatkan respons imun, dan tingkat
kelangsungan hidup udang vaname terhadap white spot disease.
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu udang vaname
bersertifikat specific pathogen-free dengan bobot awal rata-rata 2,22 ± 0,02 g/ekor.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri
dari lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu 2 perlakuan kontrol (kontrol positif dan
kontrol negatif) dan tiga perlakuan dengan penambahan mikrokapsul sinbiotik
SBM (Bacillus NP5+MOS) 1%)), SPM (P. piscicida+MOS) 1%)), SBPM (Bacillus
NP5+MOS(0,5%)+P.piscicida+MOS (0,5%)) dengan setiap perlakuan tiga kali
ulangan. Pemberian mikrokapsul sinbiotik dilakukan selama 30 hari pemeliharaan.
Pemberian pakan dilakukan sebanyak lima kali sehari dengan feeding rate 5-12%,
selanjutnya pada hari ke-31 dilakukan uji tantang dengan WSSV secara
intramuskular dengan dosis 10-4 dan pemeliharaan pasca uji tantang dilakukan
selama 7 hari.
Suspensi mikrokapsul sinbiotik terdiri atas maltodekstrin 10% (w/v), serta
protein whey dan bahan inti (probiotik dan MOS) dengan perbandingan 1:1 (v/v).
Suspensi sinbiotik disiapkan dengan mencampurkan semua bahan dalam satu
wadah lalu dihomogenkan pada stirer plate selama 30 menit sebelum masuk pada
proses spray drying. Proses spray drying menggunakan spray dryer (mini buchi
190) dengan suhu inlet 100-110oC dan suhu outlet 55-58oC. Mikrokapsul yang
dihasilkan berkepadatan 108 CFU g-1 disimpan di suhu ruang.
Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi kinerja pertumbuhan
yang diukur pada awal pemeliharaan hari ke-0 dan akhir pemeliharaan hari ke-30
yang mencakup laju pertumbuhan spesifik, tingkat kelangsungan hidup, dan rasio
konversi pakan. Pengamatan respons imun dilakukan sebelum perlakuan sinbiotik
pada hari ke-0 dan akhir perlakuan sinbiotik pada hari ke-30, pasca uji tantang pada
hari ke-31, 33, 35, dan 37 meliputi total haemocyte count (THC), aktivitas
fagositosis (AF), respiratory burst (RB), dan phenoloxydase (PO). Parameter
pengamatan ekspresi gen Peroxinectin, gen Lipopolysaccharide and ß-1,3-glucanbinding
protein (LGBP), gen Serine Protein, dan gen house keeping EF1a
dilakukan pasca uji tantang yaitu hari ke-31, 33, 35, dan 37. Analisis histopatologi
hepatopankreas dilakukan pada hari ke-37 pasca uji tantang udang vaname dengan
WSSV.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan penambahan
mikrokapsul sinbiotik dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan udang vaname
dengan hasil terbaik pada perlakuan mikrokapsul sinbiotik SPM. Nilai tingkat
kelangsungan hidup (TKH) setelah pemberian mikrokapsul sinbiotik selama 30 hari
mencapai 93,75%, 88,78%, dan 86,25% (berturut-turut pada SPM, SBPM, dan
SBM), lebih tinggi (p<0,05) dibandingan dengan kontrol yaitu 82,5%. Nilai LPS
tertinggi terdapat pada perlakuan dengan penambahan mikrokapsul yaitu SPM dan
diikuti SBPM, dan SBM, semua lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol.
Hasil analisis respons imun udang yang diberikan perlakuan mikrokapsul
sinbiotik melalui pakan selama 30 hari dengan nilai THC, AF, RB, dan PO secara
signifikan (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Pasca uji
tantang dengan WSSV, pada hari ke-33, 35, dan 37, nilai THC, AF, RB, dan PO
pada udang yang diberikan perlakuan mikrokapsul sinbiotik secara signifikan
(p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol positif.
Pasca uji tantang WSSV menunjukkan gejala klinis udang yaitu terdapat
bintik putih pada karapas, tubuh udang yang menggelap, usus udang tampak kosong
(nafsu makan menurun). Hasil pengamatan pasca uji tantang menggunakan PCR
menunjukkan nilai positif terhadap infeksi WSSV, yang ditunjukkan dengan pita
DNA 941 bp.
Hasil analisis ekspresi gen imunitas udang dengan pemberian mikrokapsul
sinbiotik secara signifikan meningkatkan ekspresi gen imunitas pada udang vaname
yang diuji tantang dengan WSSV. Peningkatan ekspresi gen Lipopolysaccharideand
ß-1, 3-glucan-binding protein (LGBP), Serine Protein, Peroxinectin pada udang
vaname yang diuji tantang dengan WSSV memberikan nilai yang berbeda nyata
(p<0.05) dibandingkan dengan kontrol positif setelah uji tantang pada hari ke-31, hari
ke-33, hari ke-35, dan hari ke-37. Perlakuan SPM menunjukkan hasil terbaik pada
ekspresi gen imunitas udang yang diuji tantang dengan WSSV.
Pengamatan histopatologi hepatopankreas menunjukkan adanya kerusakan
jaringan hepatopankreas disemua perlakuan kecuali kontrol negatif. Perlakuan SPM
memiliki kondisi jaringan lebih normal dibandingkan dengan yang lainnya.
Kerusakan terparah pada jaringan hepatopankreas terlihat pada perlakuan K+.
Perlakuan K+, SBM, dan SBPM menunjukkan nekrosis tubulus, pelebaran lumen,
kerusakan sel B serta luruhnya membran hepatopankreas.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu aplikasi mikrokapsul sinbiotik yang
terdiri dari P. piscicida dan MOS dalam pakan efektif meningkatkan kinerja
pertumbuhan, respons imun, dan tingkat kelangsungan hidup udang vaname
terhadap WSSV. Perlakuan SPM memberikan efek perlindungan terbaik dan
merupakan strategi ramah lingkungan yang menjanjikan untuk pencegahan
penyakit WSSV pada budidaya udang vaname. | |
| dc.description.abstract | Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the leading fishery
commodities with high economic value in the global market, and its production
continues to increase every year. The process of cultivating Pacific white shrimp
faces many obstacles, including disease outbreaks, one of which is white spot
disease caused by infection with the White Spot Syndrome Virus (WSSV). Pathogen
control in shrimp is usually carried out by administering antibiotics, however, their
use can increase resistance and the risk of residues that are harmful to the
environment. Efforts should be made to seek safer and more environmentally
friendly alternatives, such as administering synbiotic microcapsules with single and
combined probiotics. This study was designed to evaluate the effectiveness of
administering Pseudoalteromonas piscicida 1UB, Bacillus NP5, and
Mannanoligosaccharide (MOS) prebiotics through feed to improve growth
performance, immune response, and increase the survival rate of Pacific white
shrimp against white spot disease.
The test animals used in this study were specific pathogen-free certified
Pacific white shrimp with an average initial weight of 2.22 ± 0.02 g/shrimp. The
research design was a completely randomized design consisting of five treatments
and three replicates, namely two control treatments (positive control and negative
control) and three treatments with the addition of SBM synbiotic microcapsules
(Bacillus NP5+MOS) 1%)), SPM (P. piscicida+MOS) 1%)), and SBPM (Bacillus
NP5+MOS (0.5%)+P. piscicida+MOS (0.5%)) with three replicates for each
treatment. Synbiotic microcapsules were administered during the 30 day reared
period. Feeding was performed five times a day at a feeding rate of 5-12%. On day
31, a challenge test was conducted with WSSV administered intramuscularly at a
dose of 10-4, and post challenge rearing was performed for seven days.
The synbiotic microcapsule suspension consisted of 10% maltodextrin (w/v),
whey protein, and core ingredients (probiotics and MOS) in a 1:1 (v/v) ratio. The
synbiotic suspension was prepared by mixing all the ingredients in a container and
homogenizing them on a stirrer plate for 30 min before spray drying. The spray
drying process used a spray dryer (mini buchi 190) with an inlet temperature of
100-110°Cand an outlet temperature of 55-58°C. The resulting microcapsules had
a density of 108 CFU g?¹ and were stored at room temperature.
The parameters observed in this study included growth performance
measured at the beginning of rearing on day 0 and at the end of rearing on day 30,
which included specific growth rate, survival rate, and feed conversion ratio.
Immune response observations were conducted before synbiotic treatment on day
0 and at the end of synbiotic treatment on day 30, after challenge tests on days 31,
33, 35, and 37, including total hemocyte count (THC), phagocytosis activity (AF),
respiratory burst (RB), and phenoloxydase (PO). The observation parameters of
Peroxinectin gene expression, Lipopolysaccharide and ß-1,3-glucan-binding
protein (LGBP) genes, Serine Protein genes, and housekeeping EF1a genes were
conducted after the challenge test, namely on days 31, 33, 35, and 37.
Histopathological analysis of the hepatopancreas was performed on day 37 postchallenge
of Pacific white shrimp with WSSV.
The results showed that feeding with synbiotic microcapsules improved the
growth performance of Pacific white shrimp, with the best results observed in the
SPM synbiotic microcapsule treatment. The survival rate (SR) after 30 days of
synbiotic microcapsule administration reached 93.75%, 88.78%, and 86.25% (in
SPM, SBPM, and SBM, respectively), which was higher (p<0.05) than that in the
control group (82.5 %). The highest LPS values were found in the treatments with
the addition of microcapsules, namely SPM, followed by SBPM and SBM, all of
which were higher (p<0.05) than those in the control.
The results of the analysis of the immune response of shrimp given synbiotic
microcapsule treatment through feed for 30 days showed that the THC, AF, RB,
and PO values were significantly (p<0.05) higher than those of the control treatment.
After the WSSV challenge test, on days 33, 35, and 37, the THC, AF, RB, and PO
values in shrimp treated with synbiotic microcapsules were significantly (p<0.05)
higher than those in the positive control group.
After the WSSV challenge test, clinical symptoms were observed in the
shrimp, including white spots on the carapace, darkening of the shrimp body, and
empty intestines (decreased appetite). The results of post-challenge observations
using PCR showed positive results for WSSV infection, as indicated by a 941 bp
DNA band.
The results of the analysis of shrimp immunity gene expression with the
administration of synbiotic microcapsules significantly increased the expression of
immunity genes in Pacific white shrimp challenged with WSSV. Increased
expression of the Lipopolysaccharide- and ß-1, 3-glucan-binding protein (LGBP),
Serine Protein, and Peroxinectin genes in pacific white shrimp challenged with
WSSV showed significantly different values (p<0.05) compared to the positive
control after challenge on days 31, 33, 35, and 37. SPM treatment showed the best
results in terms of immune gene expression in shrimp challenged with WSSV.
Histopathological observation of the hepatopancreas showed damage to the
hepatopancreatic tissue in all treatments, except in the negative control. The SPM
treatment had more normal tissue conditions than the other treatments. The most
severe damage to the hepatopancreatic tissue was observed in the K+ treatment
group. The K+, SBM, and SBPM treatments showed tubule necrosis, lumen dilation,
B-cell damage, and hepatopancreatic membrane shedding.
Conclusion from the research is the application of a synbiotic microcapsule
consisting of P.piscicida and MOS in feed effectively improved the growth
performance, immune response, and survival rate of pacific white shrimp against
WSSV. SPM treatment provided the best protective effect and is a promising
environmentally friendly strategy for preventing WSSV in Pacific
white shrimp farming. | |
| dc.description.sponsorship | LPDP (Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan) Republik Indonesia | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Aplikasi Mikrokapsul Sinbiotik dengan Probiotik Tunggal dan Gabungan untuk Pencegahan White Spot Disease pada Udang Vaname | id |
| dc.title.alternative | Application of Synbiotic Microcapsules with Single and Combined Probiotics for the Prevention of White Spot Disease in Pacific White Shrimp | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | mikrokapsul | id |
| dc.subject.keyword | sinbiotik | id |
| dc.subject.keyword | udang vaname | id |
| dc.subject.keyword | white spot disease | id |