Kajian Fenomenologis Pemanfaatan dan Pemahaman Mengenai Penyu di Pulau Enggano
Abstract
Pemanfaatan penyu di Pulau Enggano berlangsung turun-temurun dan
menjadi bagian integral dari pengetahuan serta praktik budaya lokal. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk pemanfaatan penyu di Pulau Enggano dari
aspek sosial, budaya, dan ekonomi, serta mendeskripsikan pemahaman dan
pemaknaan penyu bagi masyarakat. Pendekatan fenomenologis digunakan untuk
menggali pengalaman dan persepsi masyarakat melalui metode kualitatif berupa
wawancara mendalam dan semi-terstruktur, elisitasi foto, dan observasi partisipatif.
Pemanfaatan penyu di Enggano berfungsi sebagai konsumsi dalam ritual adat,
bahan cenderamata dan simbol perdamaian. Tiga spesies utama yang dimanfaatkan
adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan
penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Upaya konservasi yang dilakukan oleh Balai
Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu berupa pembatasan jumlah
penyu dalam ritual belum berjalan efektif karena kurangnya pengawasan dan
keterlibatan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman ekologis
masyarakat masih terbatas, dan pelestarian penyu di Enggano perlu dilakukan
melalui pendekatan budaya dan kolaboratif antara masyarakat adat dan lembaga
konservasi. The use of turtles on Enggano Island has been a longstanding practice,
integral to the community's knowledge and cultural traditions. This purpose of this
study is to examine the various forms of turtle utilisation on Enggano Island
through social, cultural, and economic perspectives, and elucidate the local
population's understanding and interpretation of turtles. A phenomenological
approach was utilised to investigate the community's experiences and perceptions
using qualitative methods such as in-depth and semi-structured interviews, photo
elicitation, and participatory observation. The use of turtles in Enggano functions
as a food source in traditional rituals, provides materials for handicrafts, and
serves as a symbol of peace. The primary species used were green turtle (Chelonia
mydas), olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea), and hawksbill turtle
(Eretmochelys imbricata). Conservation initiatives implemented by the Bengkulu
Natural Resources Conservation Agency (BKSDA), such as restricting number of
turtles utilised in rituals, have proven ineffective due to inadequate community
engagement. This study suggests that turtle conservation on Enggano Island should
involve indigenous and local communities and conservation agencies in culturally
informed and collaborative ways.
