| dc.description.abstract | Remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang cepat serta
membutuhkan asupan gizi yang optimal. Di Indonesia, remaja putri masih
menghadapi masalah triple burden malnutrition, termasuk anemia akibat pola
makan yang tidak seimbang. Data Riskesdas 2018 menunjukkan 32% remaja usia
15–24 tahun mengalami anemia, dan di Kota Bogor prevalensinya mencapai 16,3%.
Pemerintah menginisiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk
meningkatkan asupan gizi dan menurunkan anemia di kalangan pelajar. Program
ini diharapkan juga meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik gizi seimbang.
Penelitian menggunakan design quasi experimental one group pre–post test
design yang dilakukan pada 78 siswi kelas X SMKN 1 Kota Bogor selama Juli
September 2025. Intervensi dilakukan selama delapan minggu berupa pemberian
makan siang bergizi gratis serta pemberian edukasi gizi melalui poster dan ceramah
15 menit setiap minggu pada minggu ke-5 hingga minggu ke-8. Pemberian
makanan pokok berupa nasi, mie, sphaghetti, singkong, roti dan kentang.
Pemberian protein nabati berupa tempe, tahu, kacang polong dan kacang merah.
Protein hewani diberikan telur ayam, telur puyuh, ikan dori dan ayam. Pemberian
sayur dan buah berupa wortel, sawi, kacang panjang, jeruk, pisang, anggur,
kelengkeng, dan pisang. Pemberian tambahan susu diberikan 1-3x dalam seminggu.
Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan, sikap, praktik, SQ-FFQ,
pengukuran antropometri, dan kadar hemoglobin menggunakan alat Hemocue 301.
Analisis dilakukan dengan uji paired t-test dan Wilcoxon signed rank test untuk
perbandingan pre–post test, serta regresi logistik untuk melihat faktor yang
memengaruhi anemia.
Sebagian besar responden berusia 15 tahun (75,6%) dengan uang saku harian
Rp15.000–20.000 (60,3%) dan berasal dari keluarga berpendapatan di bawah UMR
(82,1%). Mayoritas ayah bekerja sebagai buruh (46,2%) dan ibu tidak bekerja
(91%). Pendidikan orang tua umumnya setingkat SMA. Sebanyak 73,1% responden
memiliki siklus menstruasi normal 28–35 hari dengan durasi 5–7 hari, namun
62,8% mengalami gejala lemah dan letih saat menstruasi. Kondisi sosial ekonomi
dan kesehatan reproduksi ini menjadi faktor yang dapat memengaruhi kecukupan
gizi dan risiko anemia.
Hasil regresi logistik menunjukkan beberapa faktor yang memengaruhi
anemia adalah asupan protein, zat besi, dan kalsium. Asupan protein memiliki efek
protektif terhadap anemia (OR=0,894; p=0,018), sedangkan kalsium berperan
sebagai faktor risiko karena menghambat penyerapan zat besi (OR=1,007;
p=0,004). Zat besi juga berperan protektif (OR=0,843; p=0,049). Faktor lain seperti
asupan energi, lemak, karbohidrat, dan serat tidak menunjukkan pengaruh
signifikan. Model regresi menjelaskan 31,5% variasi anemia, menunjukkan bahwa
anemia dipengaruhi juga oleh faktor sosial, perilaku, dan biologis lain.
Intervensi MBG disertai pemberian edukasi dengan poster meningkatkan
skor pengetahuan gizi rata-rata sebesar +15,2 poin (p<0,001), dari 68,4% (kategori
sedang) menjadi 83,6% (kategori baik). Sikap gizi meningkat +10,7 poin, dari
70,2% menjadi 80,9%, menunjukkan perubahan positif dalam persepsi pentingnya
gizi seimbang. Praktik gizi meningkat signifikan sebesar +8,4 poin, dari 72,5%
menjadi 80,9%, mencerminkan kebiasaan makan yang lebih baik,
Rata-rata berat badan meningkat dari 48,3 ± 6,2 kg menjadi 49,1 ± 6,1 kg
(+0,8 kg; p<0,05), dan tinggi badan meningkat dari 155,2 ± 5,8 cm menjadi 155,7
± 5,7 cm (+0,5 cm; p<0,05). Peningkatan tersebut berkontribusi terhadap perbaikan
status gizi berdasarkan IMT/U. Temuan ini sejalan dengan standar pertumbuhan
WHO 2007, yang menunjukkan bahwa remaja putri usia 15 hingga 16 tahun
umumnya masih mengalami pertambahan berat badan dengan kecepatan moderat,
yaitu sekitar 2–3 kg per tahun, serta pertambahan tinggi badan yang relatif kecil,
yakni sekitar 0–1 cm per tahun, karena proses pertumbuhan linear telah mendekati
tahap akhir (World Health Organization. 2007). Dengan demikian, perubahan berat
dan tinggi badan yang diamati dalam penelitian ini berada dalam rentang fisiologis
yang wajar dan mencerminkan pola pertumbuhan normal pada remaja putri.
Sebelum intervensi, 76% responden berstatus gizi normal, 14% gizi kurang, dan
10% gizi lebih. Setelah intervensi, proporsi gizi normal meningkat menjadi 82%,
sedangkan gizi kurang turun menjadi 9%. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi
menu seimbang dengan sumber protein hewani dan sayuran selama delapan minggu
memberikan dampak positif terhadap status gizi remaja.
Sebelum intervensi, 28,2% remaja mengalami anemia (Hb <12 g/dL). Setelah
delapan minggu pemberian MBG, kadar hemoglobin meningkat rata-rata sebesar
0,5 g/dL (dari 11,8 ± 1,2 g/dL menjadi 12,3 ± 1,1 g/dL; p<0,05). Proporsi remaja
dengan anemia turun menjadi 16,7%. Peningkatan ini diduga karena adanya
peningkatan asupan protein hewani, zat besi, dan vitamin C dari menu MBG yang
mendukung penyerapan zat besi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kusumawati et
al. (2019) dan Rimbawan et al. (2023), yang melaporkan bahwa pemberian makan
siang bergizi meningkatkan kadar hemoglobin remaja secara signifikan | |