| dc.description.abstract | Sebanyak 15 galur lokal padi gogo asal Kalimantan dan dua varietas koleksi Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Bogor diuji ketahanannya terhadap cekaman kekeringan dengan menggunakan dua varietas pembanding; toleran (Kalimutu) dan peka (IR64). Galur-galur tersebut ditanam pada media pasir hingga mencapai fase bibit (umur 2 minggu), kemudian diberi perlakuan dengan tidak disiram selama tujuh hari. Pengamatan dilakukan terhadap panjang akar, bobot kering akar, tinggi tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering total, nisbah akar-tajuk dan akumulasi prolin pada daun. Penggolongan galur dilakukan berdasarkan metode analisis diskriminan berdasarkan tiga peubah yaitu, bobot kering akar, nisbah akar-tajuk dan kandungan prolin.
Cekaman kekeringan menyebabkan tanaman cenderung meningkatkan panjang akar, sebaliknya secara umum bobot kering akar tanaman mengalami penurunan. Walaupun demikian tidak seperti panjang akar perubahan bobot kering akar tampaknya menunjukkan tingkat konsistensi antara tanaman toleran dan peka. Bobot kering akar dari varietas/galur lokal yang tergolong toleran cenderung lebih tinggi dibandingkan varietas/galur peka. Terdapat korelasi yang tinggi antara bobot kering akar dengan nisbah akar-tajuk. Tanaman dengan bobot kering akar yang tinggi memiliki nisbah akar-tajuk yang tinggi pula. Sedangkan tinggi tanaman dan bobot kering tajuk tidak menunjukkan respon yang khas yang dapat menunjukkan tingkat konsistensi antara tanaman toleran dan peka.
Secara umum perlakuan cekaman kekeringan meningkatkan kandungan prolin. Varietas/galur toleran mengalami peningkatan kandungan prolin yang lebih tinggi dibandingkan varietas/galur peka. Peningkatan kandungan prolin yang sangat tinggi terjadi pada varietas Dodokan dan galur Sinang masing-masing mengalami peningkatan hingga 16 dan 15 kali dari tanaman kontrol. Penggolongan galur berdasarkan analisis diskriminan diperoleh hasil bahwa varietas Dodokan (4) serta galur-galur lokal yaitu Sinang (5), Talun Cantik (13), Taring Pilanduk (15) dan Raden Gunung (17) tergolong toleran dan galur Sinang Putih (6), Tewah (8), Jala (9), Basiu (11), Talun Manta (12), Jongko (14) dan Manjuhan (16) tergolong peka. Sedangkan galur Silat (7), Raja (10) dan varietas Gajah Mungkur (3) tergolong dalam kelompok moderat. | id |