Show simple item record

dc.contributor.advisorDarusman, Latifah K
dc.contributor.advisorBatubara, Irmanida
dc.contributor.authorMirtaningtyas, Verna
dc.date.accessioned2025-06-25T06:32:23Z
dc.date.available2025-06-25T06:32:23Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162988
dc.description.abstractIndonesia sampai saat ini belum memiliki standar mutu pada sediaan galenika. Secara lengkap buku materia medika dari volume I sampai dengan VI yang ada lebih menekankan spesifikasi simplisia dibanding standar mutu dan keamanan. Mengingat cukup banyaknya penggunaan obat antigout maka sangat diperlukan suatu cara analisis untuk standar analitik bagi obat antigout yang mudah, murah, cepat dan keterulangannya baik. Metode ini dapat dengan mudah diaplikasikan pada seluruh pelaku agribisnis tanaman obat. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui keterulangan metode El-Shafae dan El-Domiaty pada berbagai jenis sampel tanaman obat antigout baik kering maupun segar, serta dapat mengetahui faktor pengganggu analisis sehingga didapat metode yang sahih untuk setiap jenis sampel (daun, herba, dan rimpang). Bahan simplisia obat kering (1g) dan basah (25 g) direfluks dengan DMSO (dimetil sulfoksida) 10% dalam metanol selama 15-30 menit dan dilakukan 4 kali. Ekstrak disaring dan dikumpulkan lalu ditepatkan volumenya menjadi 100 ml. Ekstrak ini diuji kualitatif diosmin dengan kromatografi lapis tipis (KLT) sehingga diperoleh 3 tanaman yang akan dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) berdasarkan pola KLT-nya yang nodanya paling banyak, sedang, dan paling sedikit. Larutan ekstrak diambil 1 ml dan diencerkan sampai 10X dengan metanol. Cara ini juga dilakukan dalam pembuatan larutan blanko. Selanjutnya larutan standar diosmin dan blanko dinjeksikan ke dalam KCKT dengan kondisi 1 (fase gerak: MeOH 60%, isokratik, laju alir: 1.5 ml/menit, detektor: UV 345 nm dan kolom Li-Chrosorb RP18) dan dilakukan pada kondisi kedua yaitu hanya merubah fase gerak menjadi MeOH 50%. Proses pengeringan terhadap simplisia obat hampir tidak mengubah komponen fitokimia yang terkandung dalam suatu simplisia obat. Hasil KCKT DMSO memberikan puncak yang sangat tinggi pada waktu retensi 1,2 menit dan waktu retensi diosmin 1.5 ± 0.09 menit. Nilai ini jauh berbeda dengan hasil metode Fitriyenni, yaitu sebesar 3.4 ± 0.02 menit. Adanya senyawa kimia lain yang ikut terekstrak dapat menggangu pengukuran KCKT. Limit deteksi pada kondisi pertama untuk pengukuran diosmin adalah 0.1 ppm dan limit kuantifikasi sebesar 1 ppm dan untuk kondisi kedua adalah limit deteksi sebesar 2.5518 ppm dan limit kuantifikasi adalah 8.5433 ppm. Validasi metode ini tergolong dalam kelas B, yaitu dapat digunakan untuk mendeteksi suatu senyawa dan menentukan adanya pengotor.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleValidasi Keterulangan Metode Penentuan Diosmin pada Berbagai Tanaman Obat Antigoutid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record