| dc.description.abstract | Biosensor mengkombinasikan elemen pengenal biologi yang selektif dan tranduser yang sensitif, memberikan alternatif yang menarik untuk kecepatan deteksi, selektivitas, sensitivitas, dan efisiensi biaya. Perkembangan biosensor secara elektrokimia saat ini tidak hanya dikembangkan pada sensor glukosa, tetapi juga pada kolesterol. Di Indonesia saat ini belum banyak dikembangkan analisis kolesterol secara elektrokimia dengan metode voltametri. Pada umumnya pengukuran aktivitas kolesterol banyak dilakukan dengan. metode spektrofotometri.
Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh ferosen sebagai mediator pada reaksi enzim kolesterol oksidase terhadap kolesterol sebagai substrat menggunakan metode voltametri siklik. Pengamatan dilakukan terhadap arus yang dihasilkan dari reaksi redoks akibat pengaruh dari imobilisasi enzim, fungsi ferosen dan komposisinya dalam pasta karbon, pH bufer, dan konsentrasi kolesterol.
Hasil penelitian menunjukkan ferosen bersifat reversibel dan dapat berfungsi sebagai mediator transfer elektron. Voltamogram dengan parameter arus anodik tertinggi didapatkan pada komposisi ferosen, parafin cair, dan grafit dengan nisbah 1: 100: 200, konsentrasi kolesterol 0.01 mM dengan arus puncak sebesar 123.39µA, serta larutan kolesterol dalam bufer pH 7.50 dengan arus puncak sebesar 339.80 µA. Sensitivitas alat potensiostat yang rendah menyebabkan hanya puncak ferosen yang muncul, sedangkan puncak kolesterol tidak muncul pada kisaran potensial-1000-1000 mV. Arus puncak pada ferosen meningkat setelah penambahan kolesterol sehingga diasumsikan transfer elektron pada reaksi redoks kolesterol meningkatkan arus puncak ferosen dan terjadi dalam sensitivitas yang rendah. | id |