| dc.description.abstract | Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang laju pertumbuhan dan beberapa aspek reproduksi kepiting bakau Scylla spp. sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan dan perlindungan sumberdaya hayati kepiting bakau di suatu ekosistem alami. Diharapkan pemanfaatan kepiting bakau sebagai sumber protein dan juga sumber devisa dapat terus ditingkatkan dan bekelanjutan. - Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Oktober 2002 di Perairan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik. Jawa Timur dengan rincian waktu penelitian adalah bulan Februari-Maret digunakan untuk identifikasi dsl bulan Mei-0ktober digunakan untuk pengambilan data. Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan cara mendata langsung hasil tangkapan nelayan yang menangkap kepiting bakau dengan menggunakan jaring dan pancing yang dibantu dengan serok serta gentol. Pengambilan sampel setiap satu kali dalam sebulan selama enam bulan (Mei-Oktober) dan bersifat acak dari semua kepiting bakau yang dikumpulkan dari nelayan. Penentuan pertumbuhan kepiting bakau menggunakan persaman Von Bertalanflj. Untuk menduga parameter pertumbuan kepiting bakau (K dm L) dilakukan dengan men-gunakan program ELEFAN dan Bhattacharya di dalam paket program FiSAT (FAO, 2002). sedangkan pendugaan t, menggunakan persamaan Pauly. Analisa tingkat kematangan gonad dilakukan dengan mengamati morfologi dan histologi gonad. Jumlah kepiting bakau yang diperoleh dari hasil penelitian ini untuk ScyNa setrata jantan dan betina masing-masing adalah 189 ekor dan 121 ekor serta untuk Sc,vlla tranqzrebarica jantan dan betina masing-masing adalah 149 ekor dan 102 ekor. Kisaran lebar dan berat Scylla serrata masing-masing adalah 30,4-128 mm dan 3,91-430 gram sedangkan pada Scyl(o tranquebarica adalah 20.85-131.6 mm dan 1,3-33329 gram. Kilai korelasi (R') dari Scylla serrata jantan dan betina masing-masing adalah 0,9255 dan 0,9423, sedangkan Scylla tranquebarica jantan dan betina masing-masing adalah 0,9298 dan 0,8645. Hubungan lebar karapas dengan berat tubuh menunjukau korelasi positif dan bersifat allometerik. Pola pertumbuhan pada kepiting bakau Scylla serrala dan S tranquebarica jantan bersifat allolnetrik positif sedangkan Scylla serrata dan S. tranqzrebarica betina bersifat allometrik negatif. Nilai faktor kondisi pada S. serrata jantan dan betina masing-masing berkisar antara 0,86-1,23 dengan rata-rata I ,80 dan 0,79-1,18 dengan rata-rata 1.09, sedangkan pada S. Tranquebarica jantan dan betina masingmasing berkisarantara 0.66- 0,97dengan rata-rata 0,88 dan 0,39465 dengan rata-rata 0,48. Nilai faktor kondisi pada hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepitiug bakau Scylla spp. rata-rata memiliki ci~buhk urang pipih. Pertumbuhan kepiting bakau dengan dua metode: (1). metode ELEFAN, L, = 123,38 (I-e- 1,10(1+0,12) ) untuk S. serrata jantan; 6.78(1 +U,l7) ) untuk S. serrata betina; Lt = 11 5,50 (I-e- 1,m (t + o.09) L,= 131,25 (1-e untuk S tranqtrebarica jantan; dan L, = 131,25 (l-e4~y9('ffl.'4u)n)t uk S. tranqzrebarica betina. (2). metode Bhattacharya, L, = 104,42 (1-eUs9(''i 0.06) ) untuk S. serraia jantan; L, = 16232 [I -e4.45 (1 *,as) ) untuk S. serrata betina; L, = 92,72 (I-e -0.92 ( t i 0.06) ) unhk S. tranqtrebarica jantan; dan L, = 1 18,05 (l-en~5'('+u~ouSn)t)u k S. tranquebarica betina. Nisbi kelamin yang diperoleh melalui uji "Chi-Square" diperoleh sebesar 1:l. Jumlah kepiting bakau yang matang gonad masing-masing adalah pada Scylla serrata jantan 1,Oj % dan pada betina 4,13 %, sedmgkan pada S. tranquebarica jantan 2,68 % serta betina 1,96 %. Nilai IKG yang diperoleh hasil penelitian ini pada Sc);Na se.vata jantan dan betina masingmasing berkisar antara 0,75-8,G6 % &an 1,83-16,08 %. Sedangkan pada S. tranquebanca janran danbehn. a m,, as..i ng-. rgasjng berkisar antara 0,51-9,03 % dan 1.27-16,54 %. Berat total dan lebar karapas'berpengaruli positif terhadap 1KG yang dapat ditunjukan nilai R' (0,4-0.6). .. ... . Puncak musim pdi~ahantid ak terjadi selama butan-bulan pengambilan sampel yang ditunjukan dengan jumlali TKG.II.1 yang tidak mendominasi selama penelitian. Diduga Puncak musim pemijahan teijadCpada bdan Febmari yang dapat ditunjukan Lama pertumbuhan. Fe~~diiii'dalatiurbiu h dapat dikatagorikan kecil. yaitu berkisar antara 964.875-2.744.175 butir dengan sebaran ukuran diameter telw 0,254-0,415 p. Berdasarkan hasil pengamatan sebaran telur dengan mikroskop mikrometer okuler dengan pembesaran 10 X 10 diperoleh sebaran yang sempit dan relatif merata sehingga tipe pemijahan bersifat menyeluruh "total spawner", yaitu telur dikeluarkan secara total selama musim pemijahan. | id |