Show simple item record

dc.contributor.advisorHendrayanto
dc.contributor.authorHevanza, Hanif
dc.date.accessioned2024-09-05T08:45:26Z
dc.date.available2024-09-05T08:45:26Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/158570
dc.description.abstractBanjir adalah bencana alam paling umum di Indonesia, dengan 1.794 kejadian dari 5.402 bencana pada 2021. Provinsi Banten, terutama Kota Tangerang, memiliki risiko banjir tinggi karena curah hujan dan penggunaan lahan. Penelitian ini menganalisis banjir menggunakan data iklim, topografi, dan sistem informasi geografis, dengan metode Soil Conservation Service Curve Number (SCS-CN) untuk memperkirakan aliran permukaan berdasarkan curah hujan, menggunakan data tutupan lahan dari satelit Sentinel-2 (2017-2021). Hasil menunjukkan perubahan signifikan di DAS Cibanten, termasuk pengurangan 5,3 ha badan air dan penurunan 1.012,3 ha lahan garapan serta 8 ha lahan kosong, sementara lahan terbangun meningkat 1.259 ha. Padang rumput dan hutan berkurang masing-masing 5,3 ha dan 250,9 ha, sedangkan vegetasi lahan basah bertambah 22,8 ha. Curah hujan tahunan (2010-2022) berkisar antara 1509,2 hingga 2625,2 mm, rata-rata 1961,1 mm. Curah hujan ekstrem sebesar 180,4 mm/hari pada 1 Maret 2022 menyebabkan banjir besar. Perubahan penggunaan lahan dan curah hujan ekstrem adalah faktor utama penyebab banjir.
dc.description.abstractFloods are the most common natural disasters in Indonesia, with 1,794 incidents out of 5,402 disasters in 2021. Banten Province, especially Tangerang City, has a high flood risk due to rainfall and land use. This study analyzes floods using climate, topography, and geographic information system (GIS) data, with the Soil Conservation Service Curve Number (SCS-CN) method to estimate surface runoff based on rainfall, utilizing land cover data from the Sentinel-2 satellite (2017-2021). Results show significant changes in the Cibanten Watershed, including a reduction of 5,3 ha in water bodies and decreases of 1,012.3 ha in cultivated land and 8 ha in vacant land, while built-up areas increased by 1,259 ha. Grasslands and forests decreased by 5.3 ha and 250,9 ha, respectively, while wetland vegetation increased by 22.8 ha. Annual rainfall (2010-2022) ranged from 1509.2 to 2625.2 mm, averaging 1961.1 mm. Extreme rainfall of 180.4 mm/day on March 1, 2022, caused severe flooding. Land use changes and extreme rainfall are the main causes of flooding.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePenyebab Banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibantenid
dc.title.alternative
dc.typeSkripsi
dc.subject.keywordbanjirid
dc.subject.keywordcibantenid
dc.subject.keyworddaerah aliran sungaiid
dc.subject.keywordSCS-CNid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record