| dc.description.abstract | Beras merupakan bahan pangan pokok yang sangat penting bagi sebagian besar penduduk dunia, terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Jumlah konsumen beras terus meningkat setiap tahun sekitar 2%, sementara pertumbuhan produksi hanya sekitar 1,2%, sehingga berpotensi menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan dan produksi. Di Indonesia, beras memiliki peran strategis karena menjadi makanan pokok dan juga berkaitan dengan status sosial masyarakat. Akibat meningkatnya kebutuhan seiring pertumbuhan penduduk, Indonesia masih melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Dalam upaya meningkatkan produksi padi, hama dan penyakit menjadi salah satu faktor utama yang membatasi hasil panen. Penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama, seperti wereng coklat, sering menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Oleh karena itu, konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dianggap sebagai pendekatan yang paling tepat karena memanfaatkan keseimbangan ekosistem, kondisi lingkungan, dan aspek sosial budaya setempat.
Hama dan penyakit tanaman sering muncul akibat gangguan ekologi yang menyebabkan berkurangnya populasi musuh alami. Salah satu strategi dalam PHT adalah meningkatkan peran musuh alami serta menerapkan teknik budidaya yang dapat menekan perkembangan hama dan penyakit. Pemahaman tentang interaksi antara tanaman padi, hama, dan musuh alami menjadi dasar penting untuk mencegah ledakan populasi hama.
Ekosistem sawah padi terdiri dari berbagai komunitas organisme yang saling berinteraksi. Artropoda, khususnya serangga dan laba-laba, mendominasi ekosistem tersebut dan berperan penting dalam keseimbangan ekosistem. Berdasarkan perannya, artropoda di ekosistem padi dapat dikelompokkan menjadi empat guild, yaitu pemakan tumbuhan (herbivora), predator, parasitoid, serta kelompok lain seperti pemakan bahan organik mati dan pengunjung sementara. | |