Optimasi perencanaan penyaluran beras
Abstract
Pangan (beras) merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya tidak dapat ditunda-tunda. Di Indonesia beras menduduki posisi yang penting sebagai komoditas ekonomi dan sosial bahkan dapat dijadikan sebagai komoditas politik. Sebagaimana komoditas pertanian lainnya, beras memiliki karakteristik yang sangat tergantung dengan musim, waktu dan tempat. Ketergantungan terhadap waktu, musim dan tempat menyebabkan ketimpangan dalam produksi beras. Sementara itu dari sisi demand, beras yang dibutuhkan terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Oleh krena itu diperlukan suatu manajemen distribusi beras yang benar- benar tepat yang dapat menjamin ketersediaan beras di masyarakat.
Permasalahan ketimpangan dalam produksi dan konsumsi memerlukan suatu campur tangan dari pemerintah. Bulog dan Dolog adalah perpanjangan tangan pemerintah dalam permasalahan pangan khusus beras. Bulog berkedudukan di Pusat (Jakarta) sedangkan Dolog menangani permasalahan pangan di wilayah di masing- masing propinsi.
Rencana perubahan orientasi Bulog/Dolog dari melayani masyarakat (Public service) menjadi berorintasi profit mengharuskan Bulog/Dolog harus mampu merencanakan langkah yang tepat di dalam operasionalnya terutama dalam fungsi pengadaan dan penyaluran beras. Oleh karena itu perlu dilihat sejauhmanakah perubahan yang terjadi bila Bulog/Dolog melaksanakan perubahan orientasi tersebut dikaitkan dengan optimasi biaya angkut beras. Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi sentra utama penghasil beras dari
13 propinsi di Indonesia. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu studi mengenai pola distribusi yang dilakukan oleh Dolog Sumatera Barat selama ini. Penelitian ini mengkaji tentang distribusi beras pada Depot Logistik Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh manakah perubahan pola distribusi dan pengadaan beras pada Depot Logistik Sumatera Barat jika harus berorientasi pada profit dikaitkan dengan optimasi biaya angkut.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara mengumpulkan data- data yang berhubungan dengan kegiatan distribusi beras di Sumatera Barat. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil wawancara dengan staf Dolog Sumatera Barat. Sedangkan data sekunder didapaatkan dari berbagai lembaga terkait (Depot Logistik Sumatera Barat, Bulog, BPS, PSAE Bogor, DLLAJ Sumbar, dll).
Distribusi beras Sumatera Barat dalam penelitian ini dibuat menjadi 5 model, yang mana pemodelan ini dibuat berdasarkan jumlah kota sumber (Padang, Bukittinggi dan Solok). Model 1 adalah distribusi beras dari ketiga kota sumber, model 2 dan model 3 masing distribusi beras dari padang dan Bukittinggi dan Padang ...

