Show simple item record

dc.contributor.authorSianipar, Thomson Marganda
dc.date.accessioned2010-05-07T07:31:57Z
dc.date.available2010-05-07T07:31:57Z
dc.date.issued2009
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/15159
dc.description.abstractSektor pertanian adalah sektor yang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat karena fungsinya sebagai penyedia kebutuhan pokok masyarakat. Selain itu sektor pertanian juga berperan dalam memberikan pendapatan ekspor dan juga sebagai sumber kehidupan dari jutaan orang petani. Sekitar tujuh juta orang petani menggantungkan kehidupannya pada komoditi kelapa. Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki luas areal kelapa terluas di dunia. Akan tetapi dari segi produksi kopra Indonesia masih kalah dengan Filipina. Hal ini menandakan ada masalah pada sisi produktivitas kelapa di Indonesia. Dewasa ini peran dari kelapa sebagai sumber utama minyak nabati telah tergantikan oleh minyak kelapa sawit. Hal ini membuat komoditi kelapa seolah-olah terabaikan dan harga kelapa (kopra khususnya) tidak lagi menjadi insentif bagi petani. Petani kelapa umumnya menjual produknya dalam bentuk produk primer (kelapa segar dan kopra) yang membuat petani hanya mendapatkan nilai tambah yang kecil dan akibatnya kesejahteraan petani menjadi sangat rendah. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini memilki tiga tujuan utama. Pertama, Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan luas areal dan produktivitas kelapa di Indonesia. Kedua, Menduga respon penawaran dari petani kelapa dalam jangka pendek dan jangka panjang. Ketiga, Menganalisis secara deskriptif gambaran umum perkembangan komoditas kelapa di Indonesia dan mengevaluasi dan merekomendasikan kebijakan yang sesuai untuk perkembangan agribisnis kelapa. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data yang dipergunakan adalah data time series berjumlah 36 observasi dari tahun 1971 sampai dengan tahun 2006. Data-data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian, Asian and Pacific Coconut Community (APCC), Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan Bogor, InterCAFE, serta sumber dan referensi pustaka yang lain yang relevan dengan tujuan penelitian ini. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis ekonometrika dengan menggunakan model penyesuaian parsial Nerlove. Untuk mengestimasi bagaimana pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel endogennya digunakan teknik estimasi Ordinary Least Square (OLS). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan E-Views 5.1. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa variabel-variabel yang secara signifikan memengaruhi luas areal kelapa di Indonesia adalah luas areal tahun lalu, harga minyak goreng sawit tahun lalu, harga rata-rata pupuk tahun lalu, dan tingkat upah buruh tahun lalu. Sedangkan variabel yang tidak signifikan memengaruhi luas areal kelapa di Indonesia antara lain harga kopra tahun lalu, curah hujan tahun lalu, dan tingkat suku bunga riil tahun lalu. Sementara variabel-variabel yang secara signifikan memengaruhi produktivitas kelapa di Indonesia adalah produktivitas tahun lalu, harga kopra, harga pupuk, harga pestisida, upah buruh, tingkat curah hujan ratarata, dan tren waktu. Respon penawaran kelapa terhadap harga kopra dalam jangka pendek dan panjang bernilai positif dan bersifat inelastis yaitu 0.0284 pada jangka pendek dan 0.0491 pada jangka panjang. Angka elastisitas penawaran tersebut menandakan adanya kekakuan aset-aset pertanian khususnya pada usaha tani kelapa. Selama ini belum ada kebijakan khusus yang diterapkan pada komoditi ini terkait dengan kebijakan harga output. Sementara untuk kebijakan perdagangan internasional, belum ada kebijakan khusus untuk membatasi ekspor ataupun kebijakan pendukung ekspor. Sebaliknya untuk kegiatan impor, pemerintah melakukan kebijakan bea masuk dan pajak penjualan yang ditujukan untuk melindungi petani dalam negeri. Untuk kebijakan investasi, kebijakan yang dilakukan pemerintah adalah kebijakan yang bersifat umum seperti menyangkut pembangunan infrastruktur yang tidak dilakukan secara khusus untuk pengembangan investasi agribisnis kelapa. Dari hasil penelitian ini, penulis menyarankan agar pemerintah lebih mensosialisasikan pengolahan berbagai produk olahan kelapa agar petani ikut mendapat nilai tambah dari produk-produk olahan kelapa yang sangat beragam. Selanjutnya konversi lahan yang semakin marak terjadi perlu menjadi perhatian pemerintah agar lahan-lahan pertanian sebagai penyuplai bahan makanan dalam negeri tidak terus berkurang. Sosialisasi penggunaan input-input seperti pupuk dan pestisida perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kelapa di Indonesia.id
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titleAnalisis Respons Penawaran Kelapa di Indonesia Periode 1971 – 2006id


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record