Analisis produksi dan pendapatan usahatani bawang daun di desa Citeko, kecamatan Cisarua, kabupaten Bogor, Jawa Barat
Abstract
Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari nilai kontribusinya terhadap PDB tahun 1999, yaitu sebesar 19.48% atau kedua terbesar setelah sektor industri (BPS, 2000). Kontribusi terbesar untuk sektor pertanian diberikan oleh subsektor tanaman bahan makanan dimana didalamnya mencakup tanaman hortikultura.
Seperti jenis tanaman hortikultura lainnya, tanaman sayuran mempunyai nilai komersial yang cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari produksinya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (BPS, 1999). Peningkatan produksi ini juga didorong oleh meningkatnya konsumsi sayuran seiring peningkatan jumlah penduduk dan pengetahuan masyarakat akan nilai gizi sayuran.
Salah satu jenis sayuran yang berpotensi dikembangkan adalah bawang daun. Walaupun bukan komoditi unggulan namun bawang daun telah banyak dibudidayakan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) pendapatan usahatani bawang daun di daerah penelitian, (2) efisiensi dan pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi bawang daun di daerah penelitian, dan (3) kondisi skala usaha usahatani bawang daun di daerah penelitian.
Kegiatan penelitian dilakukan selama bulan Mei 2001 di Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari petani responden dan data sekunder dari instansi-instansi terkait. Analisis data yang dilakukan adalah analisis pendapatan usahatani dan analisis produksi dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas.
Berdasarkan hasil analisis pendapatan baik petani lahan sempit (< 0.15 Ha), petani lahan luas (≥ 0.15 Ha) dan petani keseluruhan, usahatani bawang daun di desa penelitian relatif menguntungkan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai R/C atas biaya total dan R/C atas biaya tunai yang lebih besar dari satu. Nilai R/C atas biaya tunai untuk kedua kategori usahatani, Hak cipta milik IPB Universi
nilainya lebih besar dari nilai R/C atas biaya total. Hal ini disebabkan komponen biaya produksi terbesar yaitu bibit tidak termasuk dalam biaya tunai melainkan biaya yang diperhitungkan.
Dari hasil analisis regresi diperoleh model yang telah memenuhi asumsi-asumsi metode kuadrat terkecil (OLS), yaitu tidak adanya multikolinier dan heteroskedastisitas. Analisis produksi tidak dibedakan seperti halnya pada analisis pendapatan, karena peubah dummy untuk luas lahan bernilai negatif dan tidak berpengaruh nyata. Jadi tidak terdapat perbedaan pengelolaan usahatani antara petani lahan sempit dan lahan luas.
Kondisi skala ekonomi usahatani bawang daun di desa penelitian berada pada kondisi kenaikan hasil yang tetap (constant returns to scale). Oleh karena itu analisis produksi dilakukan untuk penggunaan input per hektar (model dengan kendala lahan). Dari 6 peubah bebas yang terdapat dalam model, yaitu bibit, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk TSP, pupuk kandang dan obat ternyata hanya bibit dan pupuk urea yang berpengaruh nyata dan berhubungan positif terhadap produksi…dst

