Show simple item record

dc.contributor.advisorRatnawati, Anny
dc.contributor.authorRouly, Netty
dc.date.accessioned2024-05-16T08:05:16Z
dc.date.available2024-05-16T08:05:16Z
dc.date.issued1992
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/150193
dc.description.abstractKomoditas jahe akhir-akhir ini semakin menduduki tempat yang penting sebagai mata dagangan non migas. Berdasarkan hasil pencatatan UNCTAD, 1991: kebutuhan dunia pada tahun 1983 mencapai US$ 9 jahe milyar meningkat pesat mencapai US$ 18 milyar pada tahun 1991. Peningkatan ini menunjukkan adanya peningkatan tingkat konsumsi komoditas tersebut dan semakin banyak kegunaannya. akan Se- hingga usaha untuk memasok permintaan dunia masih merupa- kan peluang yang cerah bagi para eksportir. PT. DPA mulai memasok permintaan jahe dunia dari tahun 1989, meskipun masih dalam jumlah yang sangat kecil. Perusahaan ini melakukan usahatani sendiri dan langsung mengimpor jahe ke Jepang. Agar dapat bersaing di pasaran internasional, PT. DPA harus memperhatikan mutu produksi. hankan Namun untuk memperta- eksistensinya, PT. DPA menghadapi masalah biaya produksi yang tinggi. Sehingga menyebabkan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan menjadi tinggi. Salah ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcAnalisis harga pokok dan titik impas pengadaan jahe segar untuk tujuan ekspor (Studi kasus Kebun Muara PT. Dwi Pranata Agung Cisarua, Bogor)id
dc.titleAnalisis harga pokok dan titik impas pengadaan jahe segar untuk tujuan ekspor (Studi kasus Kebun Muara PT. Dwi Pranata Agung Cisarua, Bogor)id
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record