| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kemasakan kerucut dan metode precuring (pemeraman) terhadap kualitas benih Pinus merkusii. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa tingkat kemasakan kerucut, metode pemeraman dan interaksinya mempengaruhi kualitas benih yang dihasilkan.
Penelitian dilaksanakan pada areal Kebun Benih RPH Cijambu, BKPH Manglayang Timur, Sumedang serta Balai Pengujian dan Pengawasan Benih (BP,B) Jawa Barat.
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerucut pinus dari blok seumur (15 tahun) yang dipanen berdasarkan dua tingkat kemasakan, yaitu kerucut warna hijau kebiruan dan kerucut warna hijau kecoklatan, media perkecambahan, media tanam, pupuk NPK, insektisida, polibag, bambu, kayu, karung terigu, alat pengukur suhu dan RH, alat pengecambah benih, oven, bak plastik dan meteran.
Penelitian ini disusun secara faktorial menggunakan Rancangan Petak Terbagi (split plot design) dengan tiga ulangan. Faktor metode pemeraman (sebagai petak utama) terdiri dari tiga taraf, yaitu pemeraman pada lantai peram (M1), pemeraman pada para-para (M2) dan pemeraman dalam karung (M3). Faktor tingkat kemasakan kerucut (sebagai anak petak) terdiri dari dua taraf, yaitu kerucut berwarna hijau kebiruan (C1) dan kerucut berwarna hijau kecoklatan (C2).
Pelaksanaan penelitian dimulai dari pengunduhan, persiapan pemeraman dan pemeraman dengan periode pemeraman 1, 2, 3, dan 4 minggu, pemeliharaan selama pemeraman, ekstraksi hingga pengujian dan penanaman benih.
Pengamatan yang dilakukan meliputi pengukuran suhu dan RH tempat pemeraman, bobot air kerucut yang hilang, persentase pembukaan kerucut (sempur- na, setengah terbuka dan tertutup), kadar air benih, daya berkecambah benih, daya tumbuh benih, tinggi dan bobot kering bibit berumur tiga bulan setelah sapih.
Tingkat kemasakan kerucut (buah) sangat mempengaruhi kualitas benih yang dihasilkan. Tingkat kemasakan kerucut terlihat nyata mempengaruhi bobot air kerucut yang hilang, persentase pembukaan kerucut sempurna, kadar air benih, daya berkecambah benih, daya tumbuh benih dan bobot kering bibit.
Bobot air kerucut yang hilang dari kerucut warna hijau kecoklatan lebih rendah daripada kerucut warna hijau kebiruan pada pemeraman empat minggu (157.78 gram). Bobot air kerucut yang hilang mencerminkan kandungan air kerucut saat pengeringan. Semakin sedikit bobot air kerucut yang hilang saat pengeringan akan menambah jumlah kerucut yang terbuka sempurna. Persentase pembukaan kerucut yang diperoleh dari kerucut warna hijau kecoklatan lebih tinggi daripada kerucut warna hijau kebiruan pada pemeraman empat minggu (97.94%). Kerucut yang berwarna hijau kecoklatan juga memiliki kadar air benih yang lebih rendah daripada kerucut warna hijau kebiruan pada pemeraman selama empat minggu (7.96%)…dst | id |