Pengaruh Lama Penggilingan dan Frekuensi Pencucian terhadap Mutu Tepung Ikan Sapu-sapu (fish flour)
Abstract
Tepung ikan merupakan produk antara yang dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis produk seperti kerupuk, mie atau campuran produk pangan lainnya. Bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan tepung ikan sebagai bahan pangan adalah daging giling. Selain kualitas bahan baku, faktor lama penggilingan dan frekuensi pencucian juga berpengaruh dalam penurunan kadar lemak serta penerimaan panelis terhadap tepung ikan. Tujuan penggilingan basah adalah untuk menghancurkan bal6ian produk yang padat supaya dapat dikeringkan dengan sempurna dan cepat (Departemen Pertanian, 1987). Selain itu lama penggilingan, juga dapat memperbaiki tekstur tepung ikan. Lemak adalah unsur yang penting dalam bahan pangan, yaitu sebagai sumber energi. Namun untuk KPI, kadar lemak yang rendah lebih diharapkan karena mutu KPI relatif lebih stabil dan tidak mudah rusak (Winarni, 1995). Untuk menurunkan kadar lemak suatu bahan dapat dilakukan dengan pencucian. Selain itu pencucian juga dapat menghilangkan komponen larut air, darah dan komponen pembentuk warna daging ikan yaitu "heme pigment sehingga dapat memperbaiki warna atau derajat putih tepung ikan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh lama penggilingan dan frekuensi pencucian terhadap kualitas fisik, kimia dan penerimaan organoleptiknya. Penelitian pendahuluan dilakukan dengan cara menganalisa kadar air, kadar abu, protein dan lemak terhadap daging segar ikan sapu-sapu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui komposisi kimia awal daging ikan sapu-sapu. Penelitian utama dilakukan dehgan cara menggabungkan formulasi lama penggilingan (A) dengan frekuensi pencucian (B). Lama penggilingan yang dilakukan adalah 5 dan 10 menit, sedangkan frekuensi pencucian terdiri dari 3,4 dan 5 kali. Analisa yang dilakukan pada produk akhir meliputi rendemen, kadar air, kadar lemak, kadar abu, kadar protein, penentuan derajat putih dan uji organoleptik yang meliputi: penampakan, bau, tekstur, warna dan penerimaan. Penelitian dilakukan di Jurusan Pengolahan Hasil Perikanan, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi serta Bangsal Percontohan Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Dari penelitian pendahuluan didapatkan hasil komposisi kimia daging segar ikan sapu-sapu yang meiiputi kadar air, abu, protein dan lemak berturut-turut adalah 81,469; 1,309; 15,896; 0,288. Berdasarkan kandungan lemak dan proteinnya, daging ikan sapu-sapu tersebut termasuk dalam kategori hasH perikanan tipe A yaitu berprotein tinggi dan berlemak rendah. Analisis kadar air pada penelitian utama menunjukkan bahwa lama penggilingan maupun frekuensi pencucian tidak mempengaruhi kadar air pada tepung ikan yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan pada tahap pengeringan, kadar air dalam daging ikan dapat dikurangi sampai batas tertentu. Kira-kira pada kandungan air sisa mencapai 5 % atau kurang untuk metode pengeringan beku. Nilai kadar lemak berkisar antara 0,1209 sampai 0,3015 %. Analisis ragam menunjukkan bahwa lama penggilingan maupun frekuensi pencucian tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar lemak tepung ikan yang dihasilkan. Hal ini diduga karena adanya sifat lemak yang tidak larut dalam air sehingga tidak banyak lemak yang terbuang bersama dengan air pencuci (Sudarmadji et aI., 1989). Frekuensi pencucian mempengaruhi derajat putih tepung ikan. Peningkatan derajat putih hanya terjadi pada pencucian ke-3 saja, sedangkan pada pencucian yang ke-4 dan ke-5 perubahan nilai derajat putih tepung ikan tidak berbeda nyata. Hal ini diduga karena larutnya komponen pembentuk warna daging ikan yaitu heme pigment mencapai batas maksimum, sehingga nilai rata-rata derajat putih antara frekuensi pencucian 4 dan 5 kali hampir sama.

