Peranan dan strategi kehidupan wanita kepala rumahtangga : Studi kasus di desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat
Abstract
Pembangunan ekonomi akan dapat ditingkatkan jika sumberdaya manusia yang tersedia, yaitu pria dan wanita, dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dari hasil SP 1990 (BPS, 1990), jumlah penduduk wanita di Indonesia 89.872.106 jiwa (50,14%), dan 69,12% diantaranya berada di pedesaan. Di antara mereka, terdapat wanita yang menjadi kepala rumahtangga (WKRT). Walaupun dari tahun ke tahun secara persentase menurun, tetapi secara absolut meningkat.
Penelitian ini mengambil kasus WKRT de jure, yaitu WKRT Cerai (WKRT-C) dan WKRT Belum Kawin (WKRT-BK) maupun de facto, yaitu WKRT Suami Migran (WKRT-SM) dan WKRT Suami Tidak Berfungsi (WKRT-STB) yang miskin, dan juga dibedakan berdasarkan umur (tua dan muda). Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan pengamatan langsung, serta dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. WKRT menghadapi tantangan yang lebih besar dari kepala rumah-tangga pada umumnya. Kemiskinan membuat WKRT harus memiliki strategi tertentu dalam kehidupannya, seperti mencari pekerjaan non-pertanian.
