| dc.description.abstract | Karet merupakan komoditas pertanian yang penting karena merupakan penghasil devisa terbesar bagi negara dari sektor pertanian. Akan tetapi prospek pemasaran karet alam dunia tidak menggembirakan karena diperkirakan menjelang tahun 2000 akan terjadi kelebihan penawaran yang akan menyebabkan harga menjadi lebih rendah dari yang telah berjalan. Sedangkan di sisi lain masih terbuka kesempatan untuk mengusahakan tanaman kelapa hibrida terutama bila dikaitkan dengan keadaan kopra nasional dimana Indonesia merupakan negara pengimpor.
Bagi PTP XI keadaan harga karet mempunyai pengaruh yang kuat atas keuangan perusahaan, karena perusahaan ini mengusahakan karet sebagai tanaman utama. Dengan adanya perkiraan akan merosotnya harga karet alam pada masa yang akan datang, perlu dikaji kembali kelayakan finansial budi- daya karet terutama bila dibandingkan dengan kelapa hibrida, yang di PTP XI merupakan tanaman diversifikasi.
Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa ternyata di Kebun Sukamaju, budidaya karet yang diusahakan tidak layak secara finansial. Hal ini dapat dilihat dari nilai NPV-nya sebesar Rp 63 631, IRR sebesar 10.72 persen dan Net B/C sebesar 0.88. Budidaya kelapa hibrida di Kebun Cipetir dilihat dari sisi finansial perusahaan juga tidak layak untuk dilaksanakan, karena hanya akan menyebabkan kerugian bagi perusahaan sebesar Rp 1 279 859 per hektar, yang dinyatakan oleh nilai NPV-nya. Sedangkan apabila diperbandingkan antara karet dengan kelapa hibrida, untuk Kebun Sukamaju/Cipetir budidaya karet masih lebih baik... | id |