Show simple item record

dc.contributor.advisorAchjadi, R. Kurnia
dc.contributor.authorRosadas, Aceng
dc.date.accessioned2024-02-02T01:45:46Z
dc.date.available2024-02-02T01:45:46Z
dc.date.issued1989
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/137271
dc.description.abstractPenulisan ini bertujuan untuk dapat memahami peranan kematian embrio dini yang dapat menyebabkan kejadian in- fertilitas yang sering terjadi pada sapi, yang berguna un- tuk mengetahui kejadiannya sedini mungkin dan mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkannya sehingga menyadari kerugian ekonomi yang ditimbulkannya dan berusaha untuk dapat mencegahnya. Kerugian ekonomi akibat gangguan reproduksi merupakan hambatan yang paling besar dalam rangka meningkatkan popu- lasi ternak. Gangguan reproduksi dapat diakibatkan oleh kejadian infertilitas dan kematian embrio dapat merupakan salah satu penyebabnya. Pada tiap-tiap tahun di suatu pe- ternakan sapi kejadian kematian embrio kira-kira sebesar 10 %. Kematian embrio merupakan kerugian fertilitas pada sapi, kematian ini terjadi selama periode embrio yaitu pe- riode sejak terjadinya fertilisasi, implantasi sampai ter- bertuknya alat-alat tubuh bagian dalam yang berlangsung selama 45 hari. Berdasarkan waktu terjadinya, kematian embrio terdapat dua macam: (1) Kematian embrio dini yaitu kematian embrio yang terjadi sebelum hari ke-14 setelah fertilisasi. (2) Kematian embrio akhir yaitu kematian embrio yang terjadi antara hari ke-14 sampai hari ke-42 setelah fertilisasi. Kejadian kematian embrio pada sapi ditandai dengan timbulnya gejala kawin berulang (repeat breeder) dimana terjadi kenaikan interval siklus berahi yang melebihi in- terval normal 17-25 hari dan juga terjadi penurunan dras tis konsentrasi progesteron dalam plasma darah dan susu. Oleh sebab itu, evaluasi kematian embrio dapat dilakukan dengan cara: (1) Mempelajari catatan perkawinan berdasar- kan kembalinya berahi dimana terjadi perpanjangan siklus berahi. (2) Mempelajari pola siklik progesteron dalam su- su atau plasma berdasarkan penurunan konsentrasi progeste- ron secara tiba-tiba. (3) Melakukan pemotongan ternak untuk memeriksa saluran reproduksi berdasarkan ditemukannya embrio yang mati. Penyebab kematian embrio terdiri dari dua faktor uta- ma yaitu faktor genetik dan lingkungan yang meliputi faktor abnormalitas kromosom, umur, musim, makanan, ketidak seimbangan hormonal, kualitas semen dan lingkungan uterus…dstid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcKematian embrio dini sebagai salah satu penyebab infertilitas pada sapiid
dc.titleKematian embrio dini sebagai salah satu penyebab infertilitas pada sapiid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record