Pembelajaran sosial dalam pengolahan hutan bersama masyarakat(PHBM) : studi kasus Desa Lolong. Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah
Abstract
Fokus permasalahan penelitian ini adalah sikap dan perilaku petani dalam mengelola hutan sehubungan dengan implementasi PHBM. Sikap dan perilaku tersebut mencakup perubahan dalam aspek pola pengelolaan hutan dan adaptasi terhadap inovasi yang dibawa oleh Perhutani, yang berperan sebagai aparat pemerintah di bidang kehutanan. Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian bertujuan untuk mengkaji proses pembelajaran sosial dan pola pengelolaan hutan setelah masuknya PHBM.
Desa Lolong yang terletak secara administratif di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, dipilih menjadi daerah penelitian karena desa hutan ini mengimplementasikan PHBM sejak Agustus 2003 sehingga proses belajar sangat relevan dilakukan dalam upaya pemahaman terhadap ide dan nilai baru yang terkandung di dalam PHBM. Metodologi penelitian adalah kualitatif yang bersifat eksplanatif, karena penulis ingin menjelaskan gejala sosial utama yaitu praktek pengelolaan hutan dan mencari penyebab serta keterkaitannya dengan gejala sosial lain. Unit analisis dalam penelitian ada tiga pihak yaitu petani, Perhutani dan LSM KF.
Data diperoleh dari wawancara mendalam dan pengamatan. Wawancara mendalam dilakukan terhadap subyek penelitian yaitu petani anggota KTH, pengurus LMDH, aparat Perhutani dan aktivis LSM KF. Pengamatan dilakukan untuk melihat kehidupan keseharian masyarakat Lolong, interaksi antara pihak- pihak yang terlibat dalam pengelolaan hutan di Lolong yaitu petani, Perhutani dan LSM KF, proses belajar dan pola pengelolaan hutan yang diterapkan. Untuk melengkapi data yang diperoleh dari wawancara dan pengamatan dilakukan analisis terhadap data sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani di Lolong mempunyai keterikatan yang erat dengan hutan. Letak hutan yang mengelilingi desa sekaligus menjadi pembatas antara Lolong dengan desa lain. Di lahan hutan petani melakukan berbagai kegiatan cocok tanam sehingga mata pencaharian penduduk tak terlepas dari sektor pertanian. Pohon-pohon yang tumbuh di hutan mampu menyangga kebutuhan air desa. Tidak hanya itu, hutan juga telah menjadi tempat tinggal sebahagian petani, di hutanlah mereka bertemu, bercengkerama sehingga terjalin hubungan yang erat di antara mereka.
Terkait dengan implementasi PHBM maka petani Lolong sedang berada pada tahap transisi yaitu dari pola pengelolaan hutan lama yang telah mereka terapkan selama ini ke pola pengelolaan hutan baru. Transisi tersebut terjadi karena introduksi yang dilakukan oleh Perhutani terhadap ide dan nilai baru PHBM. Transisi ini melibatkan perubahan pada aspek sikap dan tingkah laku petani. Semula mereka mempraktekkan pengetahuan mereka dalam mengelola hutan, kemudian pengetahuan mereka beradaptasi dengan ide dan nilai baru sehingga terbentuk pengetahuan lokal baru. ...
