| dc.description.abstract | Pesisir merupakan kawasan yang menjadi perhatian banyak pihak untuk kegiatan ekonomi. Diantara banyaknya kegiatan ekonomi yang dilakukan di kawasan pesisir, budidaya udang menempati urutan pertama dalam perkembangannya. Udang merupakan salah satu komoditas unggulan pemerintah kita karena memiliki nilai jual dan jumlah permintaan yang tinggi di pasar internasional. Peningkatan permintaan udang di pasar internasional mendorong tingginya pemanfaatan kawasan pesisir. Setelah penyusutan kawasan pesisir yang memiliki sabuk hijau (”greenbelt”) telah menimbulkan kekhawatiran banyak pemerhati lingkungan, para pelaku budidaya udang berpindah ke kawasan pesisir dan tidak ada hutan mangrovenya. Tidak terkecuali pesisir Cilacap yang merupakan pantai yang berpasir dan tanpa mangrove, mulai banyak dimanfaatkan untuk budidaya udang. Akan tetapi pembangunan kolam tambak udang masih banyak yang tidak sesuai aturan dan tanpa disertai instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Hal ini tentunya akan berdampak pada memburuknya kualitas lingkungan dan beerujung pada terganggunya budidaya itu sendiri. Oleh karena itu perlu adanya kajian yang didasarkan dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan dan teknologi untuk tambak udang intensif di Pesisir Kabupaten Cilacap untuk mewujudkan pengelolaan yang optimal dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menghitung daya dukung perairan di pesisir Cilacap yang sudah dimanfaatkan untuk budidaya udang vaname secara intensif; (2) menganalisis status keberlanjutan pesisir Kabupaten Cilacap yang telah digunakan untuk pengembangan budidaya udang vaname; (3) menyusun strategi pengelolaan untuk kegiatan budidaya udang vaname yang berkelanjutan di pesisir Kabupaten Cilacap.
Penelitian dilakukan dari bulan Mei-Juli 2022 di pesisir Kabupaten Cilacap dengan wilayah kajian area tambak di lahan berpasir. Pengumpulan data terdiri dari data primer dan sekunder yang meliputi 5 dimensi, yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi kelembagaan dan dimensi teknologi. Pada perhitungan daya dukung perairannya dilakukan dengan pendekatan berdasarkan kemampuan volume perairan dalam menampung limbah. Analisis keberlanjutan dilakukan menggunakan metode ordinasi horizontal berbasis Multi Dimensional Scalling (MDS) dengan menggunakan 34 atribut. Dimensi ekologi terdiri dari 5 atribut, dimensi ekonomi 10 atribut, dimensi sosial 6 atribut, dimensi kelembagaan 6 atribut, dan dimensi teknologi 7 atribut. Dalam penentuan strategi pengelolaan didasarkan dari hasil analisis leverage pada atribut dengan nilai sensitivitas yang tinggi.
Hasil perhitungan daya dukung perairan Cilacap menunjukkan bahwa kegiatan budidaya udang vaname intensif di pesisir Cilacap telah melampaui daya dukungnya hingga mencapai 10 kali kondisi idealnya. Produktivitas udang vaname pada tahun 2022 mencapai 901.258 ton/tahun, sedangkan untuk produktivitas idealnya adalah 86,4 ton/tahun. Dalam meningkatkan nilai daya dukung dan terjaganya kualitas perairan, maka diperlukan adanya kebijakan terkait kewajiban pembudidaya dalam pembuatan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sehingga dapat mengurangi jumlah pencemaran yang masuk dalam perairan. Daya dukung perairan ini termasuk dalam salah satu atribut pada dimensi ekologi yang digunakan untuk menganalisis status keberlanjutan.
Secara multidimensional, kegiatan budidaya udang vaname di Pesisir Cilacap pada Tegalkamulyan dan Menganti termasuk dalam kategori cukup berlanjut, sedangkan pada Winong termasuk kurang berlanjut. Nilai indeks yang diperoleh untuk pesisir Tegalkamulyan adalah 53,59, Menganti 53,72, dan Winong 48,03. Dimensi ekonomi, dimensi kelembagaan dan dimensi teknologi dapat dikatakan sudah cukup baik karena termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan dan bahkan berkelanjutan, sedangkan untuk dimensi ekologi dan sosial masih tergolong rendah dan termasuk kategori yang kurang berkelanjutan.
Berdasarkan hasil analisis leverage dimensi ekologi didapatkan atribut yang memiliki sensitivitas tinggi diantaranya potensi bencana dan sumber pencemar lain, kualitas perairan dan kesesuaian lahan. Hasil analisis leverage dimensi ekonomi didapatkan atribut insentif, harga, alternatif mata pencaharian lain, kontribusi terhadap PDRB (Pendapatan Daerah Regional Bruto), dan kepemilikan lahan. Hasil analisis laverage dimensi sosial yang didapatkan adalah atribut pelaksanaan pekerjaan dan frekuensi konflik. Hasil analisis laverage dimensi kelembagaan diperoleh atribut ketersediaan dokumen zonasi dan konsistensi tata guna lahan, keberadaan kelompok pembudidaya dan koordinasi antar stakeholder. Hasil analisis leverage dimensi teknologi didapatkan atribut pengelolaan air limbah, penggunaan pakan dan metode pemberian pakan. Sehingga strategi pengelolaan yang direkomendasikan diantaranya rekonstruksi bangunan pelindung pantai, optimalisasi fungsi mitigasi bencana, pemantauan kualitas air secara berkala, pembuatan konstruksi tambak sesuai ketentuan, optimalisasi peta kesesuaian lahan untuk budidaya udang vaname, optimalisasi, pemanfaatan teknologi budidaya udang, peningkatan kapasitas SDM, peningkatan kerjasama antar stakeholder, peningkatan kapasitas kelembagaan, pengelolaan air limbah, penerapan teknis budidaya udang yang baik (Best Aquaculture Practice). | id |