Show simple item record

dc.contributor.advisorAziz, Sandra Arifin
dc.contributor.authorAhdayani, Laili
dc.date.accessioned2024-01-26T04:10:31Z
dc.date.available2024-01-26T04:10:31Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/136326
dc.description.abstractPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis tanaman penolak organisme pengganggu tanaman (POPT) yang efektif menolak serangan hama dan penyakit pada tumpang gilir tomat dan pakchoi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ilmu dan Teknologi benih IPB Leuwi Kopo dan Laboratorium Pendidikan Hortikultura Faperta IPB, Dramaga, Bogor, pada bulan September 2004 sampai Juni 2005. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK). Tanaman POPT sebagai perlakuan terdiri dari tagetes, serai, selasih, dan bawang daun. Masing-masing perlakuan organik diulang sebanyak 3 kali dan dilakukan perbandingan dengan konvensional sehingga terdapat 15 petak satuan percobaan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan tanaman POPT selasih mempunyai bobot basah tajuk tomat nyata tertinggi di antara perlakuan lainnya. Semua jenis tanaman POPT yang diuji pada percobaan ini dapat dipakai pada tumpang gilir tomat dan pakchoi secara organik dengan produksi per tanaman contoh dan per petak yang tidak berbeda nyata. Produksi tomat organik per tanaman contoh (tagetes, serai, selasih, dan bawang daun berturut-turut 68.5g, 24.0g, 76.1g, dan 50.1g) 41.9-81.7% lebih rendah daripada tomat konvensional (131.1g), dan produksi tomat per petak (tagetes, serai, selasih, dan bawang daun berturut-turut 733.4g, 359.6g, 447.1g. dan 350.7g) 3.3-53.7% lebih rendah daripada tomat konvensional (758.1g). Produksi pakchoi organik per tanaman contoh (tagetes, serai, dan selasih berturut-turut 33.97g, 34g, dan 27.84g) 15.95- 31.17% lebih rendah daripada pakchoi konvensional (40.45g), kecuali pada perlakuan bawang daun (44.68g) 10.46% lebih tinggi daripada konvensional. Hal yang serupa juga terjadi pada produksi pakchoi organik per petak (tagetes, serai, dan selasih berturut-turut 618.10g, 553.20g, dan 675.90g), dimana produksi pakchoi organik 18.19-33.04% lebih rendah daripada pakchoi konvensional (826.17g), kecuali pada perlakuan bawang daun (1098.20g) 32.93% lebih tinggi daripada konvensional. Penggunaan tanaman selasih efektif menolak serangan hama dengan total intensitas serangan terendah pada 2 dan 7 MST (28.49 dan 29.06%) pada tanaman tomat secara organik, dibandingkan dengan perlakuan konvensional, tanaman selasih dapat menolak serangan hama 8.67-14.63% lebih baik daripada pestisida. Penggunaan tanaman bawang daun efektif menolak serangan penyakit dengan total intensitas serangan terendah pada 7 MST (47.22%) pada tanaman tomat secara organik, dibandingkan dengan perlakuan konvensional, penggunaan pestisida 5.13-23.31% dan 13.01-20.59% lebih efektif daripada bawang daun. Penggunaan tanaman bawang daun efektif menolak serangan hama pada pakchoi dengan total intensitas serangan terendah pada 2 MST (29.81%) dan meningkatkan produksi pada tanaman pakchoi secara organik. Penggunaan tanaman serai juga efektif menolak serangan hama pada pakchoi dengan total intensitas serangan terendah pada 3 MST (45.56%), dibandingkan dengan perlakuan konvensional, bawang daun dan serai dapat menolak serangan hama berturut-turut 14.6! dan 23.99% lebih baik daripada pestisida. ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcTomatid
dc.subject.ddcPakchoiid
dc.subject.ddcPertanian organikid
dc.titlePengaruh jenis tanaman penolak organisme pengganggu tanaman terhadap produksi tumpang gilir tomat(Lycopersicon esculentum Mill.) dan Pakchoi(Brassica rapa L.) dalam sistem pertanian organikid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record