| dc.description.abstract | Pembangunan kota yang berlangsung dengan pesat mendorong pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang semakin tinggi. Akibat laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dan keterbatasan lahan yang dimiliki menyebabkan pertumbuhan pembangunan termasuk di Kota Cimahi dilakukan dengan mengkonversi lahan pertanian, hutan dan ruang terbuka lainnya menjadi lahan terbangun dengan struktur perkerasan dan bangunan.
Hal ini berdampak terhadap permasalahan lingkungan yang serius diantaranya berkurangnya ruang resapan air, lingkungan menjadi gersang dan panas serta hilangnya keragaman flora dan fauna. Untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan lebih lanjut, perlu adanya perlindungan terhadap lingkungan tersebut.
Kawasan Wisata Sanghyang Jatinunggal (K.WSJ) yang terletak di Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi merupakan salah satu kawasan bekas penambangan pasir yang akan dikonversi menjadi sebuah area wisata dan area pemukiman. Karena direncanakan sebagai pusat wisata air, maka terjaminnya ketersediaan air dalam kualitas dan kuantitas yang cukup merupakan faktor utama yang menentukan kelangsungan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata.
Hipotesis awal menunjukkan bahwa ketersediaan air pada KWSJ yang tidak pernah berkurang meskipun pada musim kemarau dapat berasal dari dua sumber yaitu sumber aliran air permukaan (run off) dan aliran air bawah permukaan (ground water). Sedangkan persediaan air di lingkungan sekitar tapak tergantung pada aliran air permukaan. ... | id |