| dc.description.abstract | Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan dari kelapa sawit kini menjadi primadona dan komoditi ekspor andalan Indonesia. Usaha budidaya kelapa sawit sudah dimulai sejak tahun 1911, di Sumatera Utara (Sumut). Sampai saat ini Indonesia merupakan negara penghasil CPO kedua terbesar setelah Malaysia. Production share Indonesia 36 persen dari total produksi dunia, tapi masih dibawah Malaysia yang memiliki production share 47,6 persen dari total produksi dunia (Ditjenbun, 2004).
Pertumbuhan konsumsi CPO dunia saat ini lebih tinggi dari pertumbuhan produksi CPO dunia yaitu 8,7 persen berbanding 7,5 persen rata-rata pertahun. Kondisi ini merupakan peluang bagi negara produsen CPO. Ekspor minyak sawit Indonesia sampai tahun 2002 juga sudah mencapai 5 persen dari total ekspor sektor nonmigas, dan diperkirakan Indonesia pada tahun 2010 (IPOC, 2003) akan menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, menguguli Malaysia, oleh karena itu dibutuhkan dasar penentu kebijakan dan perencanaan untuk industri minyak sawit dimasa depan secara tepat agar
dapat meraih dan mempertahankan posisi puncak sebagai produsen terbesar didunia Penelitian ini bertujuan mengkaji perkembangan permintaan CPO pada pasar yang dihadapi oleh Indonesia. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan CPO Indonesia dan memproyeksikan nilai permintaan produk minyak kelapa sawit untuk permintaan ekspor. Merumuskan implikasi kebijakan bisnis
Dalam penelitian ini dilakukan peramalan permintaan CPO Indonesia untuk enam tahun ke depan (2004-2010). Peramalan dilakukan secara kuantitatif dari data permintaan minyak kelapa sawit yang dihadapi Indonesia periode 1998-2003 (data bulanan) dengan menggunakan analisis ECM (Error Corection Model). Minyak kelapa sawit tersebut mencakup CPO (Crude Palm Oil) yang selama ini banyak diekspor oleh Indonesia. Kemudian output hasil peramalan akan digunakan sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan dan strategi perusahaan khususnya bidang pemasaran. ... | id |