Show simple item record

dc.contributor.advisorDjajakirana, Gunawan
dc.contributor.advisorIskandar
dc.contributor.authorDezury, Kayla Sevia
dc.date.accessioned2023-12-26T13:50:45Z
dc.date.available2023-12-26T13:50:45Z
dc.date.issued2023
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/133295
dc.description.abstractPulau Burung merupakan salah satu kecamatan di Provinsi Riau yang dikenal sebagai daerah penghasil kelapa di lahan gambut. Pengelolaan kebun kelapa di Pulau Burung dilakukan dengan dua metode berbeda, yaitu metode pertama ialah pembakaran permukaan lahan gambut yang bertujuan untuk membasmi tumbuhan bawah yang terdapat di permukaan kebun kelapa, namun hal tersebut mengakibatkan kehilangan lapisan tanah gambut. Abu hasil pembakaran dianggap masyarakat dapat menjadi pupuk bagi pohon kelapa. Pada metode kedua ialah siklus hara. Metode siklus hara merupakan metode yang diterapkan oleh PT. Riau Sakti United Plantation (RSUP) sejak 13 tahun lalu. Metode ini dilakukan dengan cara memangkas tumbuhan bawah yang berusia sekitar 3 – 4 bulan, kemudian hasil pangkasan tersebut dibiarkan tersebar di permukaan lahan agar terdekomposisi dan melepaskan unsur-unsur hara secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis perbandingan sifat-sifat kimia tanah dan jumlah mikroorganisme tanah di kebun kelapa yang dikelola dengan metode pembakaran permukaan lahan dan siklus hara. Analisis sifat kimia tanah meliputi pengukuran pH, Electric Conductivity (EC), P tersedia dengan metode Bray I, serta total basa dan unsur mikro dengan metode pengabuan kering. Analisis mikrobiologi tanah meliputi fungi dan mikroorganisme total dengan metode Total Plate Count (TPC) serta perhitungan laju respirasi tanah dengan metode Verstraete. Hasil analisis sifat kimia tanah menunjukkan bahwa kebun yang dikelola dengan metode pembakaran permukaan lahan yang intensif dapat menurunkan kemasaman tanah dan menurunkan nilai EC, serta memiliki persentase kadar abu dan nilai total unsur Ca, Mg, dan Fe yang tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh pembakaran yang menghasilkan abu yang kaya akan oksida-oksida logam. Namun nilai EC yang rendah menandakan rendahnya ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Jumlah total mikroorganisme tanah di kebun kelapa PT. RSUP jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di kebun desa. Tingginya total mikroorganisme tanah di kebun PT. RSUP disebabkan oleh permukaan kebun yang tertutup oleh tumbuhan bawah, karena akar tumbuhan dapat memberikan eksudat akar yang dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme tanah. Laju respirasi tanah semakin menurun seiring bertambahnya kedalaman tanah disebabkan oleh semakin rendahnya ketersediaan oksigen pada tanah lapisan bawah. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa kebun kelapa yang dikelola dengan metode siklus hara memiliki sifat kimia dan biologi yang lebih baik dibandingkan dengan kebun kelapa yang dikelola dengan pembakaran lahan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePerbandingan Sifat Kimia dan Biologi Tanah Gambut yang Dikelola dengan Pembakaran Lahan dan Metode Siklus Hara di Perkebunan Kelapa Pulau Burung, Riauid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordash contentid
dc.subject.keywordsoil microorganismsid
dc.subject.keywordsoil respiration rateid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record