Show simple item record

dc.contributor.advisorEffendi, Hefni
dc.contributor.advisorSoedharma, Dedi
dc.contributor.authorTriyulianti, Iis
dc.date.accessioned2023-11-15T06:31:46Z
dc.date.available2023-11-15T06:31:46Z
dc.date.issued1998
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/132294
dc.description.abstractIkan hias merupakan salah satu komoditi non migas yang potensial karena semakin banyaknya permintaan baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satu jenis ikan hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak permintaan di pasaran adalah ikan Betta (Betta splendens). Selain digunakan sebagai ikan laga, ikan betta jantan mempunyai hiasan warna tubuh yang indah dengan sirip yang panjang. Hal ini mengakibatkan adanya usaha untuk meningkatkan populasi monoseks ikan betta jantan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah merendam embrio dalam larutan hormon l 7α.-metiltestosteron. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman embrio dengan lama waktu yang 6, 8, 10 dan 12 jam menggunakan 20 mg/] hormon 17a.­ metiltestosteron terhadap nisbah kelamin ikan betta. Perendaman embrio dimulai pada saat fase bintik mata yaitu ± 30 jam setelah pembuahan. Parameter uji pada percobaan ini adalah penghitungan derajat penetasan telur, derajat kelangsungan hidup larva umur 2 minggu dan 90 hari. Persentase jenis kelamin jantan secara morfologi dapat dilihat setelah ikan berumur 3 bulan. Hasilnya dipastikan melalui pengujian gonad dengan pewarnaan asetokarmin. Data disajikan dalam bentuk tabel kemudian diuji dengan menggunakan uji antara 2 nilai proporsi serta dianalisa secara deskriptif Uji proporsi menunjukkan bahwa proporsi jenis kelamin ikan betta jantan yang diberi perlakuan hormon memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi ikan bettajantan yang tidak diberi perlakuan hormon pada taraf0,01 (selang kepercayaan 99%) baik secara morfologi maupun histologi gonad, sedangkan antar perlakuan yaitu perendaman embrio dalam hormon selama 6, 8, 10 dan 12 jam menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf0,05 dan 0,01. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perendaman embrio ikan betta dalam larutan hormon 20 mg/l l 7α.-metiltestosteron selama 6 - 12 jam menunjukkan hasil maskulinisasi yang cukup baik (78,0% - 83,4%).   Porphyridiwn cruentum merupakan salah satu jenis mikroalga yang berpotensi terkena dampak dari adanya pencemaran logam berat. Salah satu jenis logam berat yang masuk ke suatu badan perairan sebagai hasil samping dari aktivitas manusia adalah Seng (Zn). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh logam berat Seng (Zn) terhadap perkembangan Porphyridium cruentum, serta menentukan nilai konsentrasi Seng (Zn) yang dapat menghambat pertumbuhan Porphyridium cruentum sebesar 50 % (IC₅₀), nilai NOEC dan LOEC. NOEC (No Observed Effect Concentration) adalah nilai konsentrasi tertinggi yang secara nyata tidak menyebabkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan biota uji, sedang LOEC (Lowest Observed Effect Concentration) adalah konsentrasi terendah yang secara nyata berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan biota Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 20 Juni-10 Agustus 1998, di Laboratorium Planktonologi, Limnologi Jurusan MSP dan Mikrobiologi Jurusan THP, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogar. Uji toksisitas yang dilakukan adalah uji toksisitas kronik dengan lamanya pengujian adalah 96 jam (4 hari). Kegiatan penelitian meliputi : kultur mikroalga, uji mencari nilai kisaran konsentrasi toksikan yang akan diujikan, dan uji pengaruh logam berat Seng (Zn) terhadap perkembangan mikroalga uji (uji definitif).id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcAquatic Resourcesid
dc.titlePengaruh logam berat seng (Zn) terhadap perkembangan porphyridium cruentumid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record