Potensi bioaktif tumbuhan kasai, tabat barito, bratawali, bangle, dan sambung nyawa
View/ Open
Date
2000Author
Sirait, Berlian Monalisken
Sulistiyati
Darusman, Latifah K.
Metadata
Show full item recordAbstract
Kulit kayu kasai (Pometia pinnata J.R. Forst & G. Forst), daun tabat barito (Ficus deltoidea Jack), batang bratawali (Tinospora tuberculatta Beumee), rimpang bangle (Zingiber purpureum Roxb), dan daun sambung nyawa (Gynura procumbens (Lour.)Merr) adalah lima bahan tumbuhan obat yang sudah banyak digunakan sebagai sumber obat-obatan tradisional. Namun demikian, belum banyak penelitian yang mempublikasikan kandungan senyawa dan bioaktivitasnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam kelima tumbuhan obat tersebut, menentukan fraksi aktif, dan menguji bioaktivitasnya terhadap mortalitas larva udang Artemia salina Leach. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa ekstrak lima tumbuhan obat tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki potensi bioaktif.
Untuk itu telah dilakukan ekstraksi dan fraksinasi terhadap serbuk lima tumbuhan obat tersebut dengan menggunakan metode Harborne. Kelima tumbuhan obat tersebut juga dianalisis kandungan senyawa metabolit sekundernya, yang meliputi: alkaloid, flavonoid, triterpenoid/steroid, saponin, tanin, dan kuinon, menggunakan metode Sukrasno. Potensi bioaktif dianalisis berdasarkan uji mortalitas larva udang Artemia salina Leach, dinyatakan sebagai LCso (Lethal Concentration 50%, konsentrasi sampel yang menyebabkan kematian 50% hewan uji).
Ekstrak metanol yang merupakan ekstrak kasar dari kulit kasai, daun tabat barito, batang bratawali, rimpang bangle. dan daun sambung nyawa memiliki potensi bioaktif dengan nilai LCso berturut-turut 32,83 ppm, 74,90 ppm, 52,03 ppm, 9,13 ppm, dan 51,36 ppm. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa kulit kayu kasai mengandung hampir semua senyawa metabolit sekunder kecuali alkaloid dan triterpenoid, sedangkan batang bratawali hanya mengandung alkaloid, saponin, dan tanin. Daun tabat barito hanya mengandung senyawa golongan flavonoid, sedangkan rimpang bangle dan daun sambung nyawa mengandung semua senyawa metabolit sekunder kecuali kuinon. Hasil uji bioaktif fraksi menunjukkan bahwa fraksi kloroform dari kulit kasai, daun tabat barito, batang bratawali, dan daun sambung nyawa adalah fraksi paling toksik, sedangkan pada bangle fraksi yang paling toksik adalah fraksi etil asetat.
Fraksinasi fraksi paling toksik menggunakan kromatografi kolom (KK) dengan teknik gradien elusi menghasilkan 6 fraksi untuk ekstrak kloroform kasai, 9 fraksi untuk ekstrak kloroform tabat barito, 8 fraksi untuk ekstrak kloroform bratawali, 6 fraksi untuk ekstrak kloroform daun sambung nyawa, dan 8 fraksi untuk ekstrak etil asetat bangle. Dari hasil uji hayati fraksi-fraksi KK, fraksi paling toksik dari kasai, bratawali, dan daun sambung nyawa merupakan fraksi yang lebih aktif bila dibandingkan dengan ekstrak kasarnya, sedangkan pada fraksi-fraksi tabat barito dan bangle belum diperoleh fraksi yang lebih aktif bila dibandingkan dengan ekstrak kasarnya.
Collections
- UT - Chemistry [2295]
